Kamis, 08 September 2011

Pergolakan Batin Rasus dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
            Sastra adalah karya seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dan disampaikan dengan menggunakan medium bahasa melalui tulisan yang indah. Untuk menciptakan karya sastra, maka kreativitas pengarang sangat dituntut. Ahmad Tohari sebagai pengarang yang produktif sudah tidak diragukan lagi kekreativitasannya dalam menciptakan karya-karyanya. Salah satu daya tarik karya-karya Ahmad Tohari adalah kepeduliannya kepada masalah-masalah subkultur atau budaya daerah dengan kearifan lokalnya, sisi kemanusiaan dan pembelaannya kepada wong cilik. Gaya Ahmad Tohari yang agraris, akrab dengan lingkungan dan masyarakat pedesaan juga tercurahkan dalam setiap karyanya. Hal itu dapat kita temui dalam karyanya yang berbentuk novel dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk.
            Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang suatu pedesaan terpencil yang dihuni oleh masyarakat terbelakang dengan paham mistis dan suka berbicara cabul. Pada waktu yang lalu, desa ini mengalami suatu malapetaka. Malapetaka ini menyebabkan seorang anak Dukuh Paruk bernama Rasus dengan usia empat belas tahun mengalami konflik bantin. Konflik batin ini merupakan kerinduaanya terhadap emaknya hingga ia menghidupkan sosok Emak dalam angan-angannya dan menggambarkannya ke dalam diri teman sepermainannya. Pergolakan batin yang dirasakan Rasus melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih dalam tokoh Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.

B.     Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka kami menarik suatu rumusan masalah dari pembahasan ini, yaitu:
“Bagaimana pergolakan batin Rasus di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk?”


C.    Landasan Teori
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka teori yang akan kami gunakan sebagai landasan guna menemukan jawaban atas permasalahan tersebut adalah teori dengan pendekatan objektif. Pendekatan objektif adalah pendekatan yang hanya mengamati obyeknya saja, maksudnya pendekatan yang mendasarkan pada suatu karya sastra secara keseluruhan.
Yudiono K.S. dalam bukunya yang berjudul Telaah Kritik Sastra Indonesia memandang pendekatan objektif di mana karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari siapa pengarang dan lingkungan sosial-budaya zamannya, sehingga karya sastra dapat dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri.[1] Dengan begitu kritik objektif berarti kritik yang menekankan pada struktur karya sastra itu sendiri dan melepaskannya dari dunia pengarang, publik pembaca, dan situasi yang melahirkan karya sastra itu.
            Sedangkan Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya yang berjudul Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra menilai pendekatan objektif merupakan pendekatan terpenting sebab pendekatan apa pun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya sastra itu sendiri.[2] Pendekatan objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur yang dikenal dengan analisis intrinsik. Pada karya fiksi unsur-unsur itu adalah tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang pencerita, dan gaya cerita atau gaya bahasa.







BAB II
PEMBAHASAN

A.    Biografi Ahmad Tohari dan Latar Belakang Lahirnya Novel Ronggeng Dukuh Paruk
            Ahmad Tohari lahir pada tanggal 13 Juni 1948 di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Setelah menamatkan SMA di Purwokerto, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran YARSI Jakarta. Pada tahun 1970 ia menikah dan bekerja di BNI 46 Jakarta, lalu pindah ke Surat Kabar Harian Merdeka, tetapi karena merasa bosan, ia kembali ke Banyumas dan melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UNSUD Purwokerto, kemudian pindah lagi ke Fakultas Sospol, tetapi tidak diselesaikannya.
            Kegemarannya dalam menulis tumbuh pada saat SMA dengan menulis artikel dan cerpen. Setelah lulus SMA, karya-karyanya ia ajukan ke berbagai penerbit, akhirnya beberapa cerpennya diterbitkan di media Kompas dan artikelnya diterbitkan diberbagai penerbitan ibukota. Dari menulis cerpen dan artikel, Ahmad Tohari mencoba untuk menulis novel. Novel pertamanya Di Kaki Bukit Cibalak ditulisnya pada tahun 1977 dan menjadi juara harapan pertama dalam perlombaan novel yang diadakan oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Novel keduanya Kubah dicetak oleh Yayasan Buku Utama dalam bentuk buku dan ditetapkan sebagai karya fiksi terbaik. Dan novel ketiganya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.
            Novel Ronggeng Dukuh Paruk dimuat di lembaran Kompas yang kemudian dibukukan oleh Gramedia. Oleh perusahan Gramedia Film novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul Darah Mahkota Ronggeng. Lewat Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari menceritakan kehidupan penari ronggeng, dan untuk menceritakan itu ia mengikuti dengan saksama perjalanan hidup seorang ronggeng. Selain itu, menurut Ahmad Tohari sebagai pengarang novel Ronggeng Dukuh Paruk, sesungguhnya novel ini melukiskan situasi tahun 1965 yang serba semena-mena. Agar novel ini bisa terbit, Ahmad Tohari memperhalus kritikannya dan bahkan menyensor bagian-bagian yang harus dihilangkan.

B.     Sinopsis Novel Ronggeng Dukuh Paruk
            Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah novel yang bercerita tentang sebuah desa terpencil bernama Dukuh Paruk. Desa tersebut dihuni orang-orang yang sangat percaya dengan mistis, mereka memuja makam Ki Secamenggala, moyang mereka. Desa ini terkenal dengan kemelaratannya, keterbelakangannya, keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng beserta perangkat calungnya.
            Sebelas tahun yang lalu tepatnya tahun 1946 terjadi sebuah malapetaka di desa ini. Sebagian penghuni desa ini mati akibat keracunan tempe bongkrek. Santayib sebagai pembuat tempe bongkrek dituduh bahwa tempe buatannya mengandung racun dan bahkan sebagian warga menuduh Santayib telah memberi racun pada tempe bongkrek buatannya. Tetapi Santayib berdalih bahwa tempe buatannya tidak beracun, menurutnya kejadian ini adalah pageblug, sebuah kutukan roh Ki Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Untuk membuktikan bahwa tempenya tidak beracun, Santayib memakan tempe bongkrek buatanya di hadapan warga pedukuhan. Perbuatannya ini diikuti oleh istri Santayib. Santayib lari ke luar rumahnya dan berteriak-teriak bahwa tempenya tidak beracun dan kalian terkena kutuk Ki Secamenggala. Lelah berteriak-teriak, Santayib pulang ke rumah. Sesampainya di rumah ia melihat keadaan istrinya yang lemas dengan wajah pucat kebiruan. Ia pun merasa lemas, kepalanya seakan melayang-layang, lambungnya seperti ditusuk-tusuk. Selang beberapa lama, akhirnya pasangan suami istri ini meninggal.
            Malapetaka ini membuat banyak anak Dukuh Paruk menjadi yatim-piatu, seperti Rasus. Ayah Rasus meninggal di hari pertama setelah memakan tempe bongkrek, sedangkan Emak atau ibunya mampu bertahan sampai seorang mantri datang di hari ketiga. Namun, keadaan Emak tidak jelas sampai Rasus berusia empat belas tahun. Dan di usia tersebut, ia mendapat sedikit keterangan tentang diri Emak. Ada yang mengatakan Emak meninggal di poliklinik kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke kota Kabupaten. Mayat Emak dibedah sebagai bahan penyelidikan racun tempe bongkrek. Sehingga mayat Emak tidak kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan pun tidak tahu di mana mayat Emak dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan, tetapi sampai beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Dan setelah sehat benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan pergi entah ke mana bersama mantri yang merawatnya. Entah cerita mana yang harus dipercayai Rasus, yang jelas ia sangat merindui sosok Emak dan ia sangat membenci dan menaruh dendam kepada mantri.
            Kerinduan Rasus kepada Emak membuat ia menggabarkan sosok Emak di dalam diri Srintil. Ia mencari bayangan Emak pada diri Srintil. Srintil adalah teman Rasus. Ia pun seorang yatim-piatu. Orang tuanya adalah pasangan suami istri pembuat tempe bongkrek yang menyebabkan malapetaka itu terjadi. Di usianya yang masih sebelas tahun, Srintil sudah pandai menari. Ini terbukti ketika dia sedang bermain dengan Rasus, Warta, dan Darsun, dengan luwes ia melenggaklenggokan tubuhnya dan berdendang layaknya seorang ronggeng. Bakat Srintil ini diketahui kakeknya, Sakarya. Menurut Sakarya, cucunya telah kerasukan indang ronggeng. Indang adalah semacam wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Sudah sebelas tahun lamanya Dukuh Paruk tanpa ronggeng dan alunan calung. Dukuh Paruk tanpa ronggeng bukanlah Dukuh Paruh. Srintil akan mengembalikan citra dari pedukuhan itu. Sakarya menceritakan semua tentang cucunya kepada Kartareja, dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Dan akhirnya Srintil di asuh oleh Kartareja agar menjadi seorang ronggeng Dukuh Paruk.
Untuk menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya, Srintil harus memenuhi beberapa tahap. Salah satu di antaranya adalah upacara permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Setelah melaksanakan upacara tersebut, Srintil harus memenuhi syarat terakhir yaitu bukak-klambu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara terbuka untuk laki-laki mana pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng di mana laki-laki yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng akan mendapatkan keperawanan calon ronggeng. Kartareja sebagai dukun ronggeng telah menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi pemenang. Ia pun telah menentukan acara bukak-klambu akan dilaksanakan pada sabtu malam. Hati Rasus panas karena ia tidak punya uang untuk memenangkan sayembara tersebut. Rasus sangat membenci dan mengutuk acara bukak-klambu, ia tidak rela perempuan yang ia cintai, yang dari dirinya ia temukan bayangan sosok Emak disayembarakan keperawanannya. Tetapi ia sadar Srintil dilahirkan untuk menjadi ronggeng dan perempuan milik semua laki-laki.
Sabtu malam pun tiba. Seorang perjaka dari desa Pecikalan bernama Dower datang ke rumah Kartareja dengan menuntun seekor kerbau. Ia datang untuk mengikuti sayembara. Dengan dua buah rupiah perak yang telah dijadikan panjar ditambah seekor kerbau, ia berharap dirinya yang akan memenangkan sayembara tersebut dan menikmati keperwanan Srintil. Namun, Kartareja menilai seekor kerbau dan dua buah rupiah perak tidak sama dengan sebuah ringgit emas, akhirnya terjadilah perundingan di antara keduannya. Ketika perundingan itu berlangsung, datanglah seorang pemuda dengan sepeda berteromol. Pemuda itu bernama Sulam, ia adalah anak seorang lurah kaya dari seberang kampung. Pemuda itu masuk ke dalam rumah Katareja dan mengejek Dower dengan melempar sebuah ringgit emas ke atas meja. Dan akhirnya terjadilah pertengkaran antara Sulam dengan Dower. Keduanya menginginkan untuk menjadi pemenang dari sayembara tersebut. Untuk menenangkan keduanya, Kartareja membuat suatu pertandingan ‘siapa yang lebih dulu menghabiskan sebotol minuman keras dialah yang gagah dan dialah yang menjadi pemenang yang akan mendapatkan keperawanan Srintil’. Namun, dengan kelicikan Kartareja dan Nyai Kartareja minuman keras itu dibedakan, minuman keras yang asli untuk Sulam dan minuman keras yang telah tercampur air tempayan untuk Dower. Pada tegukan cangkir yang kedua, Sulam sudah mulai mabuk dan akhirnya ia jatuh pingsan. Dower yang tidak mabuk menyaksikan apa yang terjadi pada Sulam. Nyai Kartareja mengatakan Dowerlah pemenangnya dan ia berhak tidur dengan Srintil. Nyai Kartareja pun menyuruhnya untuk segera pergi ke tempat tidur berkelambu dan menemui Serintil sebelum Sulam tersadar.
Namun, tanpa diketahui semuanya, keperawanan Srintil telah diserahkan kepada Rasus. Pada saat perkelahian Dower dengan Sulam, di belakang rumah Kartareja, Srintil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus. Dan ketika Dower berjalan menghampiri tempat tidur Srintil, Srintil telah kembali ke tempat tidurnya diantar Rasus hingga ke pintu. Selang beberapa lama, akhirnya Dower keluar dengan tersenyum dan merasa bangga bahwa dirinya adalah pemuda yang mewisuda ronggeng Srintil. Kemudian, Sulam tersadar dari pingsannya, ia melihat Dower sedang tidur nyenyak. Nyai Kartareja mengatakan bahwa Sulamlah pemenangnya. Setelah buang air kecil, ia pergi menemui Srintil. Kedua pemuda tersebut sama-sama merasa bahwa dialah yang telah mewisuda ronggeng Srintil.
Setelah malam bukak-klambu, Dukuh Paruk bergembira ria dengan suaru calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi ronggeng. Lain halnya dengan Rasus, ia merasa sakit dan sangat benci. Kejadian itu telah membuatnya kehilangan cermin tempat ia mencari bayang-bayang Emak. Baginya Dukuh Paruk telah bertindak semena-mena kepada dirinya. Akhirnya dengan seekor kambing, ia ke luar dari pedukuhan tersebut dan meninggalkan nenek yang telah membesarkannya semenjak orang tuanya meninggal. Ia pergi ke Dawun. Ia bekerja mengupas kulit singkong di pasar Dawun.
Semakin lama tinggal di Dawun, semakin mampu ia menilai secara kritis tentang tanah airnya, Dukuh Paruk. Kemelaratan di sana terpelihara secara lestari karena kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka puas menjadi buruh tani dan berladang singkong kecil-kecil. Dari desa Dawun, ia mengenal kata dosa dan moral karena di Dukuh Paruk tidak ada kata dosa dan hanya mengajarkan pengertian moral tanpa tetek-bengeknya. Selain itu, setelah banyak pengalamnya atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan sosok Emak pada diri Srintil. Ia menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh Paruk.
Tahun 1960 wilayah Dawun tidak aman karena sering terjadi perampokan dan kekerasan. Ketidakamanan tersebut menyebabkan tentara-tentara yang dipimpin oleh Sersan Slamat datang ke wilayah itu. Sersan Slamet meminta Rasus untuk membantu mengangkat peti-peti logam serta barang-barang berat yang dibawanya ke sebuah rumah yang dijadikan markas tentara. Sersan Slamet sangat puas dengan  kerja Rasus, akhirnya Rasus dihadiahi sepasang pakaian tentara bekas dan diminta menjadi seorang tobang. Tobang adalah pelayan tentara atau orang yang melayani tentara dalam tugas. Ia bangga karena ia menjadi anak Dukuh Paruk pertama yang berseragam hijau. Dan sekarang ia dipanggil dengan sebutan Mas Tobang.
Kehadiran tentara di Dawuan tidak menjamin berhentinya perampokan yang terjadi di wilayah kecamatan tersebut. Bahkan perampokan ini semakin beringas. Perampok berani membunuh korbannya. Dengan begitu, Sersan Slamet memutuskan untuk mengubah tatik dengan memecah anggotanya menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-rumah penduduk yang diduga menyimpan emas permata. Karena jumlah anggota yang terbatas, Rasus terpaksa ikut menjadi anggota satuan dan ia mendapat tugas mengawasi Dukuh Paruk bersama Kopral Pujo. Pada malam kesembilan, dari tempat pengintaian Rasus melihat lima orang membawa benda panjang berjalan ke pedukuhan. Ia melapor kepada Kopral. Kopral memutuskan untuk pergi ke pertengahan pematang bertemu Sersan Slamet untuk mencari bantuaan, sedangkan Rasus mengendap mengikuti para perampok. Para perampok itu mendatangi rumah Sakarya. Sakarya terkejut setelah pintunya terbuka kencang dan ia pun keluar. Perampok bertanya di mana Srintil. Sakarya menjawab Srintil tinggal bersama Kartareja, ia pun menjelaskan di mana rumah Kartareja. Para perampok pergi menuju rumah Kartareja.
Rasus mendengar suara pintu didobrak, suara-suara menghardik, suara-suara pukulan, dan suara jeritan Srintil dari rumah Kartareja. Tak sabar menunggu kedatangan Kopral Pujo, dengan keberaniannya, Rasus mengambil sebatang gagang pacul dan menebaskannya ke punggung salah seorang perampok yang menunggu di halaman rumah. Perampok itu jatuh terkapar di tanah. Dengan cepat Rasus mengambil senjata milik perampok tersebut, kemudian ia tembakkan kepada salah satu perampok lagi, Rasus lari lalu mengumpat dan tiarap di sawah di balik pematang. Setelah itu ia melihat Kopral Pujo datang membawa bantuan. Dan akhirnya satu orang perampok tertembak oleh Kopral Pujo, satu orang lolos, dan satu orang lagi tertembak oleh Sersan Slamet. Setelah suasana sepi, orang-orang Dukuh Paruk keluar dan berkumpul di rumah Kartareja. Mereka berdecak kagum pada Rasus dan dengan keberaniannya, Sersan Slamet menjanjikan akan mengangkat Rasus sebagai tentara.
Selagi berada di Dukuh Paruk, ia memutuskan untuk berkunjung dan bermalam di rumah neneknya. Ia melihat neneknya semakin tua, kurus, dan makin bungkuk. Ia pun meminta izin kepada Sersan Slamet untuk beristirahat sambil menemani nenek. Malam terakhir di Dukuh Paruk, Rasus sulit memejamkan matanya. Sepanjang malam itu ia memikirkan keinginan Srintil. Srintil ingin menjadi seorang perempuan seutuhnya yang akan melahirkan anak dari rahimnya, ia tidak ingin lagi menjadi seorang ronggeng. Srintil ingin agar ia tetap tinggal di Dukuh Paruk, atau ikut bersamanya dan pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet. Namun, permintaan Srintil itu ia tolak.  Menjelang fajar tiba, Rasus bergegas pergi meninggalkan Dukuh Paruk. Ia pergi meninggalkan nenek dan Srintil yang masih tertidur pulas. Dengan menolak perkawinan yang ditawarkan Srintil, menurutnya ia telah memberikan sesuatu yang paling berharga bagi Dukuh Paruk, yaitu ronggeng. Dan yang terpenting di dalam diri Rasus adalah ia telah mampu menerima kepergian Emak. Ia telah meyakini Emak mati karena keracunan tempe bongkrek. Mayatnya kemudian dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun tempe bongkrek. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Ia telah mendapat pelajaran bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak.

C.    Unsur Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Tema
Tema adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita. Tema yang diangkat dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, yaitu tentang pergolakan batin seorang anak yang kehilangan Emak atau ibunya hingga ia mengidentifikasikan sosok Emak dengan orang lain. Seseorang yang dimaksud dalam novel ini adalah Rasus, ia kehilangan Emak di saat ia masih kanak-kanak. Emak tidak diketahui keberadaannya setelah malapetaka tempe bongkrek. Ada yang mengatakan Emak meninggal di poliklinik kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke kota Kabupaten. Mayat Emak dibedah sebagai bahan penyelidikan racun tempe bongkrek. Sehingga mayat Emak tidak kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan pun tidak tahu di mana mayat Emak dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan, tetapi sampai beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Dan setelah sehat benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan pergi entah ke mana bersama mantri yang merawatnya. Kerinduan Rasus kepada Emak mengakibatkan ia mengidentifikasikan sosok Emak dengan Srintil, teman sepermainannya. Ia menggabarkan sosok Emak di dalam diri Srintil.



Alur
Alur atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita atau jalannya cerita yang menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan cerita. Alur yang digunakan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah alur campuran dan merupakan alur kronologi yang menceritakan suatu peristiwa sebelas tahun yang lalu, yaitu peristiwa tempe bongkrek. Di awal penceritaan sebagai tahap penyuntingan, pencerita memperkenalkan desa yang menjadi latar dari novel ini, pencerita menceriakan sebuah desa yang bernama Dukuh Paruk dengan memberikan gambaran fisik desa ini, sejarah desa ini, penghuni desa ini, kepercayaan desa ini, dan juga kebudayaannya.
“..., Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir dua kilometer panjangnya. Dukuh Paruk, kecil dan menyendiri.” (hlm. 10)
“Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang seketurunan. Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat menghabiskan riwayat keberandalan. Di dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya.”  (hlm. 10).
“Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, ... mereka memujanya. Kubur Ki Secamenggala ... menjadi kiblat kehidupan batin mereka.” (hlm. 10)
“Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat calungnya.” (hlm.15)

Setelah menceritakan latar tempat, barulah pencerita memperkenalkan tokoh utama dalam novel ini, yaitu Rasus dan Srintil. Tetapi, di bab pertama tokoh Rasus tidak banyak diceritakan, hanya diberi tahu bahwa di tepi kampung ada tiga anak laki-laki, yaitu Rasus, Darsun, dan Warta. Bab pertama lebih banyak menceritakan tokoh Srintil, gadis kecil berusia sebelas tahun yang pandai menari dan dikatakan mendapat suatu wangsit untuk menjadi seorang ronggeng yang disebut indang. Selanjutnya penceritaan terus maju hingga Srintil tampil menari di depan warga Dukuh Paruk. Namun, penampilan Srintil mengingatkan kembali bencana yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun yang lalu, maka alur penceritaannya pun menjadi mundur, plash back ke kejadian sebelas tahun yang lalu tepatnya tahun 1946. Pada tahun itu Dukuh Paruk terkena malapetaka, malapetaka itu dikenal dengan malapetaka tempe bongkrek karena hampir seluruh warga Dukuh Paruk meninggal akibat keracunan tempe bongkrek.
Penceritaan tentang malapetaka ini berlajut hingga bab dua, di sini tokoh aku, yaitu Rasus menceritakan bagaimana malapetaka tersebut telah menghilangkan nyawa ayahnya dan ketidakjelasan akan keberadaan Emak. Di sinilah tahap pemunculan konflik. Ketidakjelasan akan keberadaan Emak menyebabkan ia selalu berimajinasi, bahkan sosok Emak ia hidupkan dalam angan-angannya dan ia gambarkan ke dalam diri Srintil.
“Akhirnya kubiarkan Emak hidup abadi dalam alam angan-anganku. Terkadang Emak datang sebagai angan-angan getir. Terkadang pula dia hadir memberi kesejukan padaku: Rasus, anak Dukuh Paruk sejati.” (hlm.36)

Selanjutnya alur cerita terus maju, walau di tengah-tengah sering kali plash  back setiap tokoh aku teringat Emak.
Tahap kadar intensitas muncul ketika Srintil sudah menjadi seorang ronggeng. Setelah dua bulan Srintil menjadi ronggeng, ternyata ia belum berhak menyebut dirinya sebagai ronggeng yang sebenarnya. Karena untuk dapat disebut ronggeng yang sebenarnya, Srintil harus menjalani dua tahap persyaratan, yaitu upacara permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala dan bukak-klambu. Syarat bukak-klambu menjadi suatu tamparan yang kencang bagi Rasus, karena bukak-klambu merupakan suatu sayembara terbuka bagi laki-laki mana pun, dan yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng, itu berarti keperawana Srintil disayembarakan. Bagaimana bisa seseorang yang dari dirinya Rasus temukan bayangan Emak disayembarankan keperawanannya. Rasus membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri. Konflik batin pada diri Rasus terus terjadi hingga pada tahap klimaksnya Srintil menjalani malam bukak-kambu. Walaupun dirinya yang telah mendapatkan keperawanan Srintil, ia kesal karena Srintil harus tidur dengan laki-laki lain. Srintil tidak suci lagi. Rasus benar-benar tidak rela derajat moral Emak sampai serendah itu. Srintil sebagai cermin tempatnya mencari bayangan Emak menjadi baur bahkan hancur berkeping. Ia tidak punya lagi cermin tempat ia mencari bayangan Emak, Dukuh Paruk telah merenggutnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari pedukuhan itu.
Ia pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini ia dapat menilai secara kritis tentang tanah airnya, Dukuh Paruk. Selain itu, setelah banyak pengalamnya atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan sosok Emak pada diri Srintil. Ia menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh Paruk. Dan sebagai tahap penyelesaiannya, Rasus mampu menerima kepergian Emak. Ia telah meyakini Emak mati karena keracunan tempe bongkrek. Kemudian mayat Emak dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun tempe bongkrek. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak dan tersadar bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi.

Latar
Latar adalah tempat dan waktu terjadinya cerita. Sesuai dengan judul novelnya Ronggeng Dukuh Paruk, novel ini berlatar tempat di sebuah pedukuhan bernama Dukuh Paruk. Sebuah desa terpencil yang dihuni orang-orang berkeyakinan mistis dengan memuja makam Ki Secamenggala, moyang mereka. Desa ini terkenal dengan kemelaratannya, keterbelakangannya, keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng beserta perangkat calungnya.
Hampir seluruh kejadian terjadi di pedukuhan atau sekitar pedukuhan ini, seperti di tepi kampung tempat Rasus, Darsun, dan Warta berjuang mencabut singkong; di bawah pohon nangka tempat Srintil menari dan Rasus, Darsun, serta Warta dan mereka mengiringi tariannya; di halaman rumah Kartareja tempat Srintil menari di hadapan warga pedukuhan; di pancuran tempat Rasus memberi papaya kepada Srintil; di rumah Kartareja tempat Rasus memberi keris kepada Srintil, terjadinya perundingan antara Kartareja, Istri Kartareja, Dower, dan Sulam, terjadinya perampokan; di kamar Srintil tempat terjadinya malam bukak-klambu; di perkuburan Dukuh Paruk tempat Rasus dan Srintil berdiskusi; di makam Ki Secamenggala tempat Srintil menjalani upacara permandian; di belakang rumah Kartareja tempat Srintil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus;  di ujung pematang tempat Rasus dan Kopral Ujo mengintai dan akhirnya melihat perampok datang ke pedukuhan; di rumah Sakarya tempat terjadinya perampokkan pertama di pedukuhan; dan di rumah nenek Rasus tempat Rasus bertemu neneknya dan berdiskusi dengan Srintil dan di tempat inilah Rasus meninggalkan Srintil dan neneknya.
Selain berlatar tempat di pedukuhan, novel ini juga bercerita di Dawuan, tempat Rasus pergi melarikan diri dari pedukuhan; di pasar Dawuan tempat ia bekerja dan di sini juga kadang-kadang ia berjumpa dengan Srintil; di warung cendol tempat Srintil dan Rasus berdiskusi; di depan pasar Dawuan tempat kedatangan tentara; di markas tentara tempat Rasus diminta untuk menjadi Tobang; dan di hutan tempat Rasus menembak patung yang dibuat mirip mantri yang ia anggap telah membawa kabur Emak.
Kejadian yang diceritakan pada novel Ronggeng Dukuh Paruk terjadi pada sebelas tahun setelah malapetaka tempe bongkrek. Di novel dipaparkan malapetaka tempe bongkrek terjadi pada tahun 1946.
“Sebelas tahun yang lalu ketika Srintil masih bayi.” (hlm.21)
“Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946.” (hlm.21)

Selanjutnya cerita dilanjutkan setelah dua bulan Srintil menjadi Ronggeng. Diceritakan pada Jum’at malam, Dower datang ke rumah Kartareja memberi dua buah uang rupiah perak sebagai panjar. Kemudian Sabtu malam diceritakan sebagai malam bukak-klambu. Cerita pun berlanjut hingga tahun 1960, pada tahun ini wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman karena sering terjadinya perampokan dengan kekerasan senjata.
“Sudah dua bulan Srintil menjadi Ronggeng.” (hlm.43)
“Tahun 1960 wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman.” (hlm.90)

Kemudian cerita pun berjalan hingga dua tahun berikutnya. Selain itu, kejadian-kejadian yang terjadi dalam novel ini sering kali diceritakan pada waktu sore dan malam hari. Ada juga sebagian latar waktu digambarkan dengan suasananya, seperti “...sampai matahari menyentuh cakrawala.” (hlm.14); “...pada malam yang bening itu,” (hlm.15); “Pada hari baik,” (hlm.17); “Dalam haru-biru kepanikan...” (hlm.25); “Sore hari paling getir yang pernah kualami.” (hlm 68); dan “...sebelum matahari terbenam,” (hlm.99).

Tokoh dan Penokohan
Tokoh adalah pelaku di dalam cerita, sedangkan penokohan adalah bagaimana para pelaku berprilaku di dalam cerita. Tokoh utama dan juga merupakan tokoh protagonis dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah Rasus, dikatakan demikian karena novel ini menceritakan tentang pergolakan batin yang terjadi di dalam diri Rasus, dan dalam novel ini tokoh Rasus yang sering mengalami konflik. Rasus adalah seorang anak yatim piatu berusia empat belas tahun.

Sudut Pandang Pencerita
Sudut Pandang Penceritaan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya, dan di mana ia melihat kejadian-kejadian yang terdapat dalam cerita itu. Sudut pandang dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah sudut pandang “akuan” sebagai pemain dan narator. Pemain yang bertindak sebagai pelaku utama cerita merangkap juga sebagai narator yang menceritakan tentang orang lain. Kadang kala ia terlibat dalam cerita, tetapi ketika yang lain, ia bertindak sebagai pengamat yang berada di luar cerita. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, “aku” sebagai pelaku dapat dilihat dari bagaimana “aku” mengiringi Srintil menari ronggeng di bawah pohon nangka dengan instrumen mulut, bagaimana “aku” menyelipkan keris warisan mendiang ayahnya ke bawah bantal Srintil, atau bagaimana “aku” menjadi lelaki pertama yang menikmati keperawanan Srintil, dan masih banyak yang lainnya. Sedangkan, “aku” sebagai narator atau pencerita dapat dilihat dari kutipan:
“Dukuh Paruk dengan segala isinya, termasuk cerita Nenek itu, hanya bisa kurekam setelah aku dewasa. Apa yang kualami sejak kanak-kanak kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana. Dengan kemampuan seorang anak pula, kurangkaikan cerita sepotong-potong yang kudengar dari kiri-kanan. Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu menyusunnya menjadi sebuah catatan.” (hlm.32)

Selain itu, dapat dilihat juga dari pikiran dan renungan “aku” yang berisi persoalan yang menyangkut etika, seperti ketika “aku” menghadapi dilema dua versi yang berlainan tentang kematian Emak; atau persoalan-persoalan yang sifatnya sangat teknis, seperti ketika “aku” mendeskripsikan sebab-sebab keracunan tempe bongkrek. Pastinya “aku” pelaku sebagai seorang bocah desa tak berpendidikan berusia empat belas tahun tidak mungkin memiliki pemikiran seperti itu, terlebih lagi untuk memahami dengan jelas istilah-istilah seperti karbohidrat, kalori, evaluasi, fenomena, bakteri pseudomonas coccovenenans, dan virginitas.

Gaya Cerita atau Gaya Bahasa
Gaya cerita atau gaya bahasa adalah cara pencerita dalam menyusun dan memilih kata-kata yang ia paparkan di dalam ceritanya. Kekuatan novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah bagaimana Ahmad Tohari mendeskripsikan latar cerita dengan jelas hingga memasukan beberapa hewan dan beberapa pohon di dalamnya. Namun, Ahmad Tohari tidak sembarangan memasukan hewan-hewan tersebut, hewan-hewan tersebut ia masukan sesuai dengan keserasian terhadap lingkungan hidup, seperti “kearifan alam agar pohon randu baru tidak tumbuh berdekatan dengan biangnya”, “pohon dadap memilih cara yang hampir sama bagi penyebaran jenisnya”, dan “kampret harus mau melahap daun waru agar kehidupan jenisnya lestari”. Dengan begitu, gaya bahasa yang digunakan Ahmad Tohari begitu agraris, dekat dengan alam, dan masyarakat pedesaan.
Untuk memperkuat bahwa masyarakat Dukuh Paruk adalah masyarakat yang percaya terhadap mistis, maka Ahmad Tohari memasukan mantra di dalam novel ini, yaitu mantra agar tampak lebih cantik. Di sini diceritakan Nyai Kartareja meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil agar Srintil tampak lebih cantik.
uluk-uluk perkutut manggung
teka saka ngendi,
teka saka tanah sabrang
pakanmu apa,
pakanku madu tawon
manis madu tawon,
ora manis kaya putuku, Srintil.” (hlm.18)

Selain itu, sering kali Ahmad Tohari menggunakan kata-kata kasar di dalam dialog antar tokoh, seperti anjing, asu buntu, bajingan tengik, bangsat, dan kampret. Ini merupakan penguat bagaimana gambaran masyarakat pedukuhan yang selalu berkata kasar dan berseloroh cabul.

D.    Pergolakan Batin Rasus dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang pergolakan batin Rasus. Rasus adalah seorang anak Dukuh Paruk berusia empat belas tahun yang ditinggal pergi orang tuanya. Pada saat usianya tiga tahun terjadi suatu malapetaka di desanya. Malapetaka yang dikenal dengan malapetaka tempe bongkrek mengakibatkan sebagian warga pedukuhan meninggal. Malapetaka itu yang menyebabkan ia kehilangan orang tuanya, ayahnya meninggal akibat keracunan tempe bongkrek sementara Emak tidak diketahui keberadaannya apakah sudah meninggal atau belum. Ada yang mengatakan Emak meninggal di poliklinik kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke kota Kabupaten. Mayat Emak dibedah sebagai bahan penyelidikan racun tempe bongkrek. Sehingga mayat Emak tidak kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan pun tidak tahu di mana mayat Emak dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan, tetapi sampai beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Dan setelah sehat benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan pergi entah ke mana bersama mantri yang merawatnya. Rasus cenderung lebih mempercayai versi pertama karena menurutnya versi pertama lebih baik daripada versi kedua, meskipun keduanya tinggal menjadi ketidakjelasan yang membuatnya merana daripada seorang yatim-piatu.
Ketidakjelasaan akan keberadaan Emak mengakibatkan terjadinya pergolakan batin di dalam diri Rasus. Selama bertahun-tahun hingga usianya empat belas tahun ia hanya bisa berandai-andai tentang Emak. Ia biarkan Emak hidup abadi dalam angan-angannya. Bahkan sengaja ia gambarkan sosok Emak ke dalam diri Srintil. Gambaran tersebut ia reka sendiri dan dijadikan kepastian dalam hidupnya.
“Ah, sebaiknya kukhayalkan Emak sudah mati. Ketika dia hidup dia secantik Srintil. Bila sedang tidur, tampillah Emak sebagai citra perempuan sejati. Ayu, teduh, dan menjadi sumber segala kesalehan, seperti Srintil saat itu masih lelap...” (hlm.42)
“Tidak bisa kupastikan yang kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan atau seorang perempuan sebagai citra seorang emak. Emakku. Atau kedua-duanya. Tetapi jelas, penampilan Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi perempuan yang telah melahirkanku. Bahkan juga bentuk lahirnya ... Sudah kukatakan aku belum pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri. Lama-lama hal yang kureka sendiri itu kujadikan kepastian dalam hidupku.” (hlm.45)

Pergolakan batin Rasus semakin menjadi setelah Srintil menjadi seorang ronggeng, terlebih lagi syarat bukak-klambu yang harus dijalani Srintil untuk menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya. Keperawanan Srintil disayembarakan. Bagaimana bisa seseorang yang dari dirinya Rasus temukan bayangan Emak disayembarankan keperawanannya. Rasus membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri. Konflik batin pada diri Rasus terus terjadi terlebih setelah Srintil melewati malam bukak-klambu, semua angan-angan yang telah dibangun Rasus tentang Emak hancur berkeping-keping. Walaupun dirinya yang telah mendapatkan keperawanan Srintil, ia kesal karena Srintil harus tidur dengan laki-laki lain. Srintil tidak suci lagi. Rasus benar-benar tidak rela derajat moral Emak sampai serendah itu. Srintil sebagai cermin tempatnya mencari bayangan Emak menjadi baur bahkan hancur berkeping. Ia tidak punya lagi cermin tempat ia mencari bayangan Emak, Dukuh Paruk telah merenggutnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari pedukuhan itu.
“Pengingkat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah direnggut kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin tempat aku mencari baying-bayang Emak. Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku belum mengenal Srintil.” (hlm.80)

Ia pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini ia dapat menilai secara kritis tentang tanah airnya, Dukuh Paruk. Selain itu, setelah banyak pengalamnya atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan sosok Emak pada diri Srintil.
“Sosok Emak yang kulukis dalam angan-angan selama bertahun-tahun, dengan berat hati harus kumusnahkan. Dulu aku begitu yakin Emak mempunyai cambang halus di pipi seperti Srintil. Atau lesung pipi di pipi kiri. Suaranya lembut dan sejuk dengan senyum yang menawarkan duka seorang anak yang selalu merindukannya. Kulitnya putih, dadanya subur, tempat selama dua tahun aku bergantung menetek dan bermanja.” (hlm.87)

Sebagai gantinya, Rasus menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh Paruk dengan ciri-ciri khas Dukuh Paruk.
“Sebagai gantinya muncul perempuan lain dengan ciri-ciri khas Dukuh Paruk. Rambut Kusut dengan ujung kemerahan. Wajah lesu dan pucat karena sehari-hari tidak cukup makan. Sepasang tetek dengan putting hitam, hanya subur pada waktu panen. Sepasang telapak kaki yang lebar dengan endapan daki melapisinya. Kata-katanya kasar dengan selingan serapah cabul. Itulah gambaran seorang perempuan Dukuh Paruk, gambaran yang lebih masuk akal. Aku harus mulai belajar menerima kenyataan bahwa sebagai perempuan Dukuh Paruk, Emak memiliki ciri-ciri seperti itu pula.” (hlm.87)

Akhirnya sedikit demi kedudukan Srintil di dalam jiwa Rasus bergeser ke tempat yang lebih wajar.
Pergolakan batin di dalam diri Rasus pun merenggang bahkan hilang. Hingga akhirnya ia mampu menerima kepergian Emak. Ia telah meyakini Emak mati karena keracunan tempe bongkrek. Kemudian mayat Emak dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala macam tentang racun tempe bongkrek. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak dan tersadar bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi.
“Aku sudah mendapat pelajaran. Berusaha mencari gambaran Emak yang selama ini kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekeliruan semacam itu takkan pernah kuulangi.” (hlm.106)
“Tetapi sebenarnya perasaan itu muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan karena aku telah begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak.” (hlm.107)











BAB III
PENUTUPAN
Simpulan
Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita tentang pergolakan batin Rasus. Pergelokan itu terjadi akibat ketidakjelasan akan keberadaan Emak. Selama bertahun-tahun ia hanya bisa berandai-andai tentang Emak. Ia biarkan Emak hidup abadi dalam angan-angannya. Bahkan sengaja ia gambarkan sosok Emak ke dalam diri Srintil. Pergolakan batin Rasus semakin menjadi setelah Srintil menjadi seorang ronggeng, terlebih lagi syarat bukak-klambu yang harus dijalani Srintil untuk menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya. Rasus membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri.
Konflik batin pada diri Rasus terus terjadi terlebih setelah Srintil melewati malam bukak-klambu, semua angan-angan yang telah dibangun Rasus tentang Emak hancur berkeping-keping. Rasus benar-benar tidak rela derajat moral Emak sampai serendah itu. Srintil sebagai cermin tempatnya mencari bayangan Emak menjadi baur bahkan hancur berkeping. Ia tidak punya lagi cermin tempat ia mencari bayangan Emak, Dukuh Paruk telah merenggutnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari pedukuhan itu.
Ia pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini sedikit demi kedudukan Srintil di dalam jiwa Rasus bergeser ke tempat yang lebih wajar. Pergolakan batin di dalam diri Rasus pun merenggang bahkan hilang. Hingga akhirnya ia mampu menerima kepergian Emak. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak dan tersadar bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi.




DAFTAR PUSTAKA

Endarmoko, Eko. 1984. “Perihal Ronggeng Srintil” dalam majalah Horison edisi Januari. Jakarta.
Kutha, Nyoman Ratna. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
K.S.,Yudiono. 1986. Telaah Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.
K.S.,Yudiono. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Tohari, Ahmad. 2003. Ronggeng Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


[1] Yudiono K..S., Telaah Kritik Sastra Indonesia  (Bandung: Angkasa, 1986). hlm. 32
[2] Nyoman Kutha Ratna, Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008). hlm. 73

1 komentar:

  1. Spades Gold - Titanium Bars | TITNCYCLE ARTICLES
    Spades Gold - titanium post earrings Titanium Bars. $50.00. The most recent edition of how much is titanium worth the winnerwell titanium stove Spades Gold series, micro touch hair trimmer The Art & Gatherings collection, TITNCYCLE ARTICLES 출장마사지

    BalasHapus