Celoteh Anggun
Minggu, 18 Maret 2012
Kamis, 08 September 2011
Amir Hamzah:Hanyut Aku
PENDAHULUAN
Nama
lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah. Ia dijuluki Raja Penyair
Pujangga Baru dan bergelar Pangeran Indra Putra. Ia dilahirkan di Tanjung Pura,
Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan
bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Mula-mula ia
menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916.
Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan.
Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah
pertamanya pada tahun 1927. Kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah
menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia
kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana
Muda Hukum.
Riwayat
hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir
Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang
berkedudukan di Binjai. Ketika itu ia adalah Pangeran Langkat Hulu di Binjai.
Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat
terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui
Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946.
Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada
rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum
pancung. Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang
tidak bersalah dari sebuah Revolusi Sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI
menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Buah
karya Amir Hamzah salah satunya adalah Nyanyian Sunyi. Nyanyian Sunyi merupakan
kumpulan puisi yang mencerminkan pergolakan manusia untuk menemukan hakikat Tuhan.
Di dalamya ditemukan konsep-konsep pencarian Tuhan dengan metafora dan
simbol-simbol. Di dalam buku kumpulan puisi tersebut terdapat judul puisi “Hanyut
Aku”. Puisi tersebut akan dibahas pada makalah ini.
|
AMIR HAMZAH :
HANYUT AKU
A.
Analisis Struktur Kepuitisan
Ada
kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan, yaitu:
1.
Pilihan Kata
Kata-kata
di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam
bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena
ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk
mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri
pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi,
imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang terdapat dalam puisi “Hanyut Aku”
karya Amir Hamzah:
Hanyut Aku
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
Ulurkan
tanganmu, tolong aku
Sunyinya
sekelilingku!
Tiada
suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak
Dahagakan
kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebab diammu
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam
Tenggelam
dalam malam
Air
di atas menidih keras
Bumi
di bawah menolak ke atas
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
|
2.
Bahasa Kiasan
Bahasa
kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencapai aspek kepuitisan
atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya.
Dalam penulisan sebuah sajak, bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah
tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Bahasa kiasan dipergunakan untuk memperindah
sajak- sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak yang tedapat dalam puisi
“Hanyut Aku” karya Amir Hamzah adalah sebagai berikut:
a)
Repetisi
Repetisi
adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak
terdapat dalam:
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
.....................................
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
b)
Pesonifikasi
Personifikasi
adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah
hidup. Dalam sajak terdapat dalam:
.....................................
tiada air menolak ngelak
.....................................
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, ............
c)
Simbolik
Simbolik
pada dasarnya adalah kiasan tapi isinya lebih luas, tidak hanya menggantikan
benda atau hal yang disimbolkan saja, tetapi juga memberikan tambahan konotasi.
Dengan simbolik sesuatu yang abstrak bisa dijadikan lebih konkrit, dan dengan
simbolik dapat juga memberikan kesan yang dalam dan pengalaman yang luas
tentang sesuatu keadaan atau hal yang mempunyai sifat bermacam-macam.[1]
Simbolik banyak digunakan dalam pengimajian. Kata-kata yang terdapat dalam
sajak “Hanyut Aku” merupakan simbol menyatakan kesedihan.
3.
Citraan
Citraan
adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau
kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang
sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita
menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu
kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh
dan tuntas.
Citraan
dalam puisi terdiri dari citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan,
citraan penciuman, citraan pencicipan atau pencecapan, dan citraan gerak.
Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik
alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat
menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami
puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan
kata- kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam
sajak “Hanyut Aku” citraan yang digunakan, yaitu:
·
Citraan penglihatan:
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, ............
Air
di atas menidih keras
Bumi
di bawah menolak ke atas
·
Citraan pendengaran:
Sunyinya
sekelilingku!
Tiada
suara kasihan, ........................
·
Citraan perabaan:
....................,
tiada angin mendingin hati,
............................
Dahagakan
kasihmu, hauskan bisikmu, ..........
·
Citraan gerak:
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
....................,
aku tenggelam
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
4.
Sarana Retorika
Sarana
retorika pada dasarnya merupakan tipu muslihat pikiran yang mempergunakan
susunan bahasa yang khas sehingga pendengar seperti dituntut untuk berpikir. Dalam
menyampaikan sebuah ide atau gagasan Amir Hamzah cenderung pada aliran mistisisme,
namun dalam sajak “Hanyut Aku” lebih dominan pada aliran ekspresionisme. Penyair ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak
dalam jiwanya. Amir Hamzah menyatakan perasaan cintanya, bencinya, rasa
kemanusiaannya, rasa ketuhanannya yang tersimpan dalam dadanya.
Sajak
“Hanyut Aku” merupakan sajak bebas, di mana sajak bebas adalah sajak yang baitnya tidak terikat
pada jumlah larik tertentu serta jumlah kata setiap lariknya dan iramanya tidak
tetap. Dalam sajak ini, Amir Hamzah memakai bunyi konsonan dan vokal untuk
menimbulkan suatu suasana yang sesuai dengan isi perasaan atau pikiran yang
sedang diucapkannya, seperti Tenggelam
dalam malam bunyi vokal [a] dan konsonan [m] sama-sama memberi perasaan
yang berat dan kelam.
B. Analisis Semiotik
Studi
sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu
sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya
sastra mempunyai arti. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur dalam
atau hubungan dalamnya, akan dihasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik
itu tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural, dan sebaliknya. Tugas
semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai
produksi arti dalam puisi. Dalam sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah merupakan
ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair.
Sajak “Hanyut Aku”
karya Amir Hamzah menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan. Sajak
ini merupakan teriakan dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya
dari keadaannya yang amat malang. Keadaan yang mengharuskan ia menyerah kepada
aturan-aturan dan hukum-hukum masyarakat dan kebudayaan, dan keadaan yang
mengharuskan ia melepas cita-cita kebebasan pribadi, kebebasan penentuan hidup
sendiri, dan cita-cita demokrasi. Puncak keharusan untuk melepas kebebasannya
itu terjadi di mana ia harus menikahi anak Sultan Langkat sementara ia jatuh
cinta kepada seorang gadis Jawa, Ilik Sundari. Dalam kekalahannya menyerah
kepada kekuasaan, menghianati cintanya yang dipilihnya sendiri dengan
kemauannya sendiri sebagai manusia yang bebas, timbul keinginannya untuk mati,
terlihat pada sajak terakhir: Mati aku,
kekasihku, mati aku!
Pada sajak “Hanyut Aku”, di sini Amir Hamzah benar-benar
merasa hancur dan menderita terhadap permasalahan hidupnya, hal ini tertuang
dalam kata Hanyut Aku, ia merasa
hanyut dan tenggelam akan penderitaannya. Ia minta tolong dan berharap
seseorang yaitu kekasihnya untuk mengulurkan tangan dan membantunya untuk naik
dari ketenggelamannya, terlihat pada sajak Ulurkan
tanganmu, tolong aku. Penderitaan itu ia hadapi sendiri dan disekelilingnya
sepi, dan di saat ia tenggelam, ia merasa tidak ada yang dapat menolongnya,
tidak ada yang mengerti akan penderitaannya, dan tidak ada yang dapat
menenangkan hatinya, terlihat pada sajak Sunyinya
sekelilingku!/ Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, tiada air menolak ngelak. Begitupun
dengan kekasihnya, kekasih yang ia harapkan untuk dapat menolongnya ternyata
tidak dapat menolongnya. Sang kekasih hanya diam dan itu membuat Amir Hamzah
semakin hancur dan putus asa, terlihat pada sajak Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku sebab diammu. Ternyata
kediaman kekasihnya menambah deritanya dan itu membuat ia semakin hanyut dan
tenggelam, Langit menyerkap, air berlepas
tangan,/ aku tenggelam/ Tenggelam dalam malam/ Air di atas menidih keras/ Bumi
di bawah menolak ke atas. Sajak tersebut menguatkan bahwa ia semakin
tenggelam akan kependeritaannya, semakin tidak kuat menghadapi permasalahan
hidupnya. Sampai akhirnya ia menyerah dan putus asa sehingga terbesit
keinginannya untuk mati, dan itu tertuang pada sajak terakhir Mati aku, kekasihku, mati aku!.
Jika dilihat dari kisah
hidup Amir Hamzah, sajak “Hanyut Aku” merupakan curahan hati Amir Hamzah untuk kekasihnya, Ilik Sundari. Sehingga
kekasihku yang dimaksud dalam sajak
“Hanyut Aku” adalah Ilik Sundari. Namun, sebagian pengamat sastra yang menilai
Amir Hamzah sebagai sastrawan aliran mistisisme atau sufisme berpendapat bahwa kekasihku yang dimaksud dalam sajak
“Hanyut Aku” adalah Tuhan. Menyebut Tuhan dengan kekasih merupakan manifestasi
dari rasa cinta Amir Hamzah kepada Tuhan. Di sini ia meminta tolong kepada
Tuhan akan penderitaan atau permasalahan yang ia hadapi. Ia merasa hanya
Tuhanlah yang dapat menolongnya, sehingga jika Tuhan diam dan tidak menolongnya
ia akan mati. Tidak ada yang dapat
menyelesaikan penderitaan dan permasalahan hidupnya kecuali Tuhan, ia
pun minta tolong kepada Tuhan, dan menegaskan kembali jika Tuhan tidak
menolongnya maka ia akan mati. Jadi, Kekasihku
yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia
yaitu Ilik Sundari, dapat juga diartikan Tuhan.
Perasaan kalah dan berkhianat maupun sebagai penjelmaan
terumbang ambing jiwanya dari suatu saat ke saat yang lain dalam menghadapi
kekasih dunianya, dalam menghadapi kaum keluarga di sekitarnya, maupun dalam
menghadapi Tuhan serwa sekalian alam, dapatlah kia sekarang keluar menghadapi bentuk
keindahan yang mengikat curahan kekalahan, kesedihan, dan penderitaan Amir
Hamzah yang amat dalam itu.[2]
Dengan begitu, Amir Hamzah telah berhasil menjelmakan deraan dan siksaan kata
hatinya menjadi sekumpulan sajak yang mahaindah.
BAB
III
PENUTUPAN
·
Sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah
menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan.
·
Sajak “Hanyut Aku” merupakan teriakan
dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya dari keadaannya yang amat
malang.
·
Kekasihku
yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia dapat
juga diartikan Tuhan.
|
Alisjahbana, S. Takdir.
1985. Amir Hamzah: Penyair Besar Antara
Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Balai Kajian dan
Pengembangan Budaya Melayu. “Biografi Tengku Amir Hamzah” dalam www.tengkuamirhamzah.com.
Yogyakarta.
Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Tamoe, Syam S. 2010.
“Analisis Isi Puisi Sufistik ‘Padamu Jua’ karya Amir Hamzah” dalam www.syamstamoe.co.cc.
Jakarta.
Pergolakan Batin Rasus dalam Novel Ronggeng Dukuh Paruk
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Sastra adalah karya seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dan
disampaikan dengan menggunakan medium bahasa melalui
tulisan yang indah. Untuk
menciptakan karya sastra, maka kreativitas pengarang sangat dituntut. Ahmad
Tohari sebagai pengarang yang produktif sudah tidak diragukan lagi
kekreativitasannya dalam menciptakan karya-karyanya. Salah satu daya tarik
karya-karya Ahmad Tohari adalah kepeduliannya kepada masalah-masalah subkultur
atau budaya daerah dengan kearifan lokalnya, sisi kemanusiaan dan pembelaannya
kepada wong cilik. Gaya Ahmad Tohari yang agraris, akrab dengan lingkungan dan
masyarakat pedesaan juga tercurahkan dalam setiap karyanya. Hal itu dapat kita
temui dalam karyanya yang berbentuk novel dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita
tentang suatu pedesaan terpencil yang dihuni oleh masyarakat terbelakang dengan
paham mistis dan suka berbicara cabul. Pada waktu yang lalu, desa ini mengalami
suatu malapetaka. Malapetaka ini menyebabkan seorang anak Dukuh Paruk bernama
Rasus dengan usia empat belas tahun mengalami konflik bantin. Konflik batin ini
merupakan kerinduaanya terhadap emaknya hingga ia menghidupkan sosok Emak dalam
angan-angannya dan menggambarkannya ke dalam diri teman sepermainannya. Pergolakan
batin yang dirasakan Rasus melatarbelakangi penulis untuk mengkaji lebih dalam
tokoh Rasus dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk.
B. Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang telah diuraikan di atas, maka kami menarik suatu rumusan masalah dari
pembahasan ini, yaitu:
“Bagaimana
pergolakan batin Rasus di dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk?”
C.
Landasan Teori
Berdasarkan latar belakang
masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan di atas, maka teori yang akan
kami gunakan sebagai landasan guna menemukan jawaban atas permasalahan tersebut
adalah teori dengan pendekatan objektif. Pendekatan objektif adalah pendekatan
yang hanya mengamati obyeknya saja, maksudnya pendekatan yang mendasarkan pada
suatu karya sastra secara keseluruhan.
Yudiono K.S. dalam bukunya
yang berjudul Telaah Kritik Sastra Indonesia memandang pendekatan objektif di
mana karya sastra sebagai dunia otonom yang dapat dilepaskan dari siapa
pengarang dan lingkungan sosial-budaya zamannya, sehingga karya sastra dapat
dianalisis berdasarkan strukturnya sendiri.[1]
Dengan begitu kritik objektif berarti kritik yang menekankan pada struktur
karya sastra itu sendiri dan melepaskannya dari dunia pengarang, publik
pembaca, dan situasi yang melahirkan karya sastra itu.
Sedangkan
Nyoman Kutha Ratna dalam bukunya yang berjudul Teori, Metode, dan Teknik
Penelitian Sastra menilai pendekatan objektif merupakan pendekatan terpenting
sebab pendekatan apa pun yang dilakukan pada dasarnya bertumpu atas karya
sastra itu sendiri.[2]
Pendekatan objektif memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur yang
dikenal dengan analisis intrinsik. Pada karya fiksi unsur-unsur itu adalah
tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang pencerita, dan gaya
cerita atau gaya bahasa.
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Biografi Ahmad
Tohari dan Latar Belakang Lahirnya Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Ahmad Tohari lahir pada tanggal 13 Juni 1948 di
Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Setelah menamatkan SMA di
Purwokerto, ia melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran YARSI Jakarta. Pada
tahun 1970 ia menikah dan bekerja di BNI 46 Jakarta, lalu pindah ke Surat Kabar
Harian Merdeka, tetapi karena merasa bosan, ia kembali ke Banyumas dan
melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi UNSUD Purwokerto, kemudian pindah lagi
ke Fakultas Sospol, tetapi tidak diselesaikannya.
Kegemarannya dalam menulis tumbuh pada saat SMA dengan
menulis artikel dan cerpen. Setelah lulus SMA, karya-karyanya ia ajukan ke
berbagai penerbit, akhirnya beberapa cerpennya diterbitkan di media Kompas dan
artikelnya diterbitkan diberbagai penerbitan ibukota. Dari menulis cerpen dan
artikel, Ahmad Tohari mencoba untuk menulis novel. Novel pertamanya Di Kaki
Bukit Cibalak ditulisnya pada tahun 1977 dan menjadi juara harapan pertama
dalam perlombaan novel yang diadakan oleh DKJ (Dewan Kesenian Jakarta). Novel
keduanya Kubah dicetak oleh Yayasan Buku Utama dalam bentuk buku dan ditetapkan
sebagai karya fiksi terbaik. Dan novel ketiganya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.
Novel Ronggeng Dukuh Paruk dimuat di
lembaran Kompas yang kemudian dibukukan oleh Gramedia. Oleh perusahan Gramedia
Film novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul Darah Mahkota Ronggeng.
Lewat Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari menceritakan kehidupan penari ronggeng,
dan untuk menceritakan itu ia mengikuti dengan saksama perjalanan hidup seorang
ronggeng. Selain itu, menurut Ahmad Tohari sebagai pengarang novel Ronggeng
Dukuh Paruk, sesungguhnya novel ini melukiskan situasi tahun 1965 yang serba
semena-mena. Agar novel ini bisa terbit, Ahmad Tohari memperhalus kritikannya
dan bahkan menyensor bagian-bagian yang harus dihilangkan.
B. Sinopsis Novel Ronggeng
Dukuh Paruk
Ronggeng Dukuh Paruk adalah sebuah
novel yang bercerita tentang sebuah desa terpencil bernama Dukuh Paruk. Desa
tersebut dihuni orang-orang yang sangat percaya dengan mistis, mereka memuja
makam Ki Secamenggala, moyang mereka. Desa ini terkenal dengan kemelaratannya, keterbelakangannya,
keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan ronggeng beserta
perangkat calungnya.
Sebelas tahun yang lalu tepatnya
tahun 1946 terjadi sebuah malapetaka di desa ini. Sebagian penghuni desa ini
mati akibat keracunan tempe bongkrek. Santayib sebagai pembuat tempe bongkrek dituduh
bahwa tempe buatannya mengandung racun dan bahkan sebagian warga menuduh
Santayib telah memberi racun pada tempe bongkrek buatannya. Tetapi Santayib
berdalih bahwa tempe buatannya tidak beracun, menurutnya kejadian ini adalah pageblug, sebuah kutukan roh Ki
Secamenggala yang telah lama tidak diberi sesaji. Untuk membuktikan bahwa
tempenya tidak beracun, Santayib memakan tempe bongkrek buatanya di hadapan
warga pedukuhan. Perbuatannya ini diikuti oleh istri Santayib. Santayib lari ke
luar rumahnya dan berteriak-teriak bahwa tempenya tidak beracun dan kalian
terkena kutuk Ki Secamenggala. Lelah berteriak-teriak, Santayib pulang ke
rumah. Sesampainya di rumah ia melihat keadaan istrinya yang lemas dengan wajah
pucat kebiruan. Ia pun merasa lemas, kepalanya seakan melayang-layang,
lambungnya seperti ditusuk-tusuk. Selang beberapa lama, akhirnya pasangan suami
istri ini meninggal.
Malapetaka ini membuat banyak anak
Dukuh Paruk menjadi yatim-piatu, seperti Rasus. Ayah Rasus meninggal di hari
pertama setelah memakan tempe bongkrek, sedangkan Emak atau ibunya mampu bertahan
sampai seorang mantri datang di hari ketiga. Namun, keadaan Emak tidak jelas
sampai Rasus berusia empat belas tahun. Dan di usia tersebut, ia mendapat
sedikit keterangan tentang diri Emak. Ada yang mengatakan Emak meninggal di
poliklinik kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke kota Kabupaten. Mayat Emak
dibedah sebagai bahan penyelidikan racun tempe bongkrek. Sehingga mayat Emak
tidak kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan pun tidak tahu di mana mayat
Emak dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan, tetapi
sampai beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Dan setelah
sehat benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan pergi entah ke mana
bersama mantri yang merawatnya. Entah cerita mana yang harus dipercayai Rasus, yang
jelas ia sangat merindui sosok Emak dan ia sangat membenci dan menaruh dendam
kepada mantri.
Kerinduan Rasus kepada Emak membuat
ia menggabarkan sosok Emak di dalam diri Srintil. Ia mencari bayangan Emak pada
diri Srintil. Srintil adalah teman Rasus. Ia pun seorang yatim-piatu. Orang
tuanya adalah pasangan suami istri pembuat tempe bongkrek yang menyebabkan
malapetaka itu terjadi. Di usianya yang masih sebelas tahun, Srintil sudah
pandai menari. Ini terbukti ketika dia sedang bermain dengan Rasus, Warta, dan
Darsun, dengan luwes ia melenggaklenggokan tubuhnya dan berdendang layaknya
seorang ronggeng. Bakat Srintil ini diketahui kakeknya, Sakarya. Menurut
Sakarya, cucunya telah kerasukan indang
ronggeng. Indang adalah semacam
wangsit yang dimuliakan di dunia peronggengan. Sudah sebelas tahun lamanya
Dukuh Paruk tanpa ronggeng dan alunan calung. Dukuh Paruk tanpa ronggeng
bukanlah Dukuh Paruh. Srintil akan mengembalikan citra dari pedukuhan itu.
Sakarya menceritakan semua tentang cucunya kepada Kartareja, dukun ronggeng di
Dukuh Paruk. Dan akhirnya Srintil di asuh oleh Kartareja agar menjadi seorang
ronggeng Dukuh Paruk.
Untuk
menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya, Srintil harus memenuhi beberapa
tahap. Salah satu di antaranya adalah upacara permandian yang secara
turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki Secamenggala. Setelah
melaksanakan upacara tersebut, Srintil harus memenuhi syarat terakhir yaitu bukak-klambu. Bukak-klambu adalah semacam sayembara terbuka untuk laki-laki mana
pun. Yang disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng di mana laki-laki
yang dapat menyerahkan sejumlah uang yang ditentukan oleh dukun ronggeng akan
mendapatkan keperawanan calon ronggeng. Kartareja sebagai dukun ronggeng telah
menentukan syarat sekeping uang ringgit emas bagi laki-laki yang ingin menjadi
pemenang. Ia pun telah menentukan acara bukak-klambu
akan dilaksanakan pada sabtu malam. Hati Rasus panas karena ia tidak punya
uang untuk memenangkan sayembara tersebut. Rasus sangat membenci dan mengutuk acara
bukak-klambu, ia tidak rela perempuan
yang ia cintai, yang dari dirinya ia temukan bayangan sosok Emak disayembarakan
keperawanannya. Tetapi ia sadar Srintil dilahirkan untuk menjadi ronggeng dan perempuan
milik semua laki-laki.
Sabtu
malam pun tiba. Seorang perjaka dari desa Pecikalan bernama Dower datang ke rumah
Kartareja dengan menuntun seekor kerbau. Ia datang untuk mengikuti sayembara. Dengan
dua buah rupiah perak yang telah dijadikan panjar ditambah seekor kerbau, ia
berharap dirinya yang akan memenangkan sayembara tersebut dan menikmati
keperwanan Srintil. Namun, Kartareja menilai seekor kerbau dan dua buah rupiah
perak tidak sama dengan sebuah ringgit emas, akhirnya terjadilah perundingan di
antara keduannya. Ketika perundingan itu berlangsung, datanglah seorang pemuda
dengan sepeda berteromol. Pemuda itu bernama Sulam, ia adalah anak seorang
lurah kaya dari seberang kampung. Pemuda itu masuk ke dalam rumah Katareja dan
mengejek Dower dengan melempar sebuah ringgit emas ke atas meja. Dan akhirnya
terjadilah pertengkaran antara Sulam dengan Dower. Keduanya menginginkan untuk
menjadi pemenang dari sayembara tersebut. Untuk menenangkan keduanya, Kartareja
membuat suatu pertandingan ‘siapa yang lebih dulu menghabiskan sebotol minuman
keras dialah yang gagah dan dialah yang menjadi pemenang yang akan mendapatkan
keperawanan Srintil’. Namun, dengan kelicikan Kartareja dan Nyai Kartareja
minuman keras itu dibedakan, minuman keras yang asli untuk Sulam dan minuman
keras yang telah tercampur air tempayan untuk Dower. Pada tegukan cangkir yang
kedua, Sulam sudah mulai mabuk dan akhirnya ia jatuh pingsan. Dower yang tidak
mabuk menyaksikan apa yang terjadi pada Sulam. Nyai Kartareja mengatakan
Dowerlah pemenangnya dan ia berhak tidur dengan Srintil. Nyai Kartareja pun
menyuruhnya untuk segera pergi ke tempat tidur berkelambu dan menemui Serintil
sebelum Sulam tersadar.
Namun,
tanpa diketahui semuanya, keperawanan Srintil telah diserahkan kepada Rasus.
Pada saat perkelahian Dower dengan Sulam, di belakang rumah Kartareja, Srintil
menyerahkan keperawanannya kepada Rasus. Dan ketika Dower berjalan menghampiri
tempat tidur Srintil, Srintil telah kembali ke tempat tidurnya diantar Rasus
hingga ke pintu. Selang beberapa lama, akhirnya Dower keluar dengan tersenyum
dan merasa bangga bahwa dirinya adalah pemuda yang mewisuda ronggeng Srintil. Kemudian,
Sulam tersadar dari pingsannya, ia melihat Dower sedang tidur nyenyak. Nyai
Kartareja mengatakan bahwa Sulamlah pemenangnya. Setelah buang air kecil, ia
pergi menemui Srintil. Kedua pemuda tersebut sama-sama merasa bahwa dialah yang
telah mewisuda ronggeng Srintil.
Setelah
malam bukak-klambu, Dukuh Paruk
bergembira ria dengan suaru calung dan joget Srintil yang telah resmi menjadi
ronggeng. Lain halnya dengan Rasus, ia merasa sakit dan sangat benci. Kejadian itu
telah membuatnya kehilangan cermin tempat ia mencari bayang-bayang Emak.
Baginya Dukuh Paruk telah bertindak semena-mena kepada dirinya. Akhirnya dengan
seekor kambing, ia ke luar dari pedukuhan tersebut dan meninggalkan nenek yang
telah membesarkannya semenjak orang tuanya meninggal. Ia pergi ke Dawun. Ia
bekerja mengupas kulit singkong di pasar Dawun.
Semakin
lama tinggal di Dawun, semakin mampu ia menilai secara kritis tentang tanah
airnya, Dukuh Paruk. Kemelaratan di sana terpelihara secara lestari karena
kebodohan dan kemalasan penghuninya. Mereka puas menjadi buruh tani dan
berladang singkong kecil-kecil. Dari desa Dawun, ia mengenal kata dosa dan
moral karena di Dukuh Paruk tidak ada kata dosa dan hanya mengajarkan
pengertian moral tanpa tetek-bengeknya. Selain itu, setelah banyak pengalamnya
atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan sosok Emak
pada diri Srintil. Ia menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh
Paruk.
Tahun
1960 wilayah Dawun tidak aman karena sering terjadi perampokan dan kekerasan.
Ketidakamanan tersebut menyebabkan tentara-tentara yang dipimpin oleh Sersan
Slamat datang ke wilayah itu. Sersan Slamet meminta Rasus untuk membantu mengangkat
peti-peti logam serta barang-barang berat yang dibawanya ke sebuah rumah yang
dijadikan markas tentara. Sersan Slamet sangat puas dengan kerja Rasus, akhirnya Rasus dihadiahi sepasang
pakaian tentara bekas dan diminta menjadi seorang tobang. Tobang adalah
pelayan tentara atau orang yang melayani tentara dalam tugas. Ia bangga karena
ia menjadi anak Dukuh Paruk pertama yang berseragam hijau. Dan sekarang ia
dipanggil dengan sebutan Mas Tobang.
Kehadiran
tentara di Dawuan tidak menjamin berhentinya perampokan yang terjadi di wilayah
kecamatan tersebut. Bahkan perampokan ini semakin beringas. Perampok berani
membunuh korbannya. Dengan begitu, Sersan Slamet memutuskan untuk mengubah
tatik dengan memecah anggotanya menjadi kelompok-kelompok kecil dengan anggota
dua sampai tiga orang. Setiap kelompok bertugas mengawasi rumah-rumah penduduk
yang diduga menyimpan emas permata. Karena jumlah anggota yang terbatas, Rasus
terpaksa ikut menjadi anggota satuan dan ia mendapat tugas mengawasi Dukuh
Paruk bersama Kopral Pujo. Pada malam kesembilan, dari tempat pengintaian Rasus
melihat lima orang membawa benda panjang berjalan ke pedukuhan. Ia melapor
kepada Kopral. Kopral memutuskan untuk pergi ke pertengahan pematang bertemu
Sersan Slamet untuk mencari bantuaan, sedangkan Rasus mengendap mengikuti para
perampok. Para perampok itu mendatangi rumah Sakarya. Sakarya terkejut setelah
pintunya terbuka kencang dan ia pun keluar. Perampok bertanya di mana Srintil.
Sakarya menjawab Srintil tinggal bersama Kartareja, ia pun menjelaskan di mana
rumah Kartareja. Para perampok pergi menuju rumah Kartareja.
Rasus
mendengar suara pintu didobrak, suara-suara menghardik, suara-suara pukulan,
dan suara jeritan Srintil dari rumah Kartareja. Tak sabar menunggu kedatangan
Kopral Pujo, dengan keberaniannya, Rasus mengambil sebatang gagang pacul dan
menebaskannya ke punggung salah seorang perampok yang menunggu di halaman
rumah. Perampok itu jatuh terkapar di tanah. Dengan cepat Rasus mengambil senjata
milik perampok tersebut, kemudian ia tembakkan kepada salah satu perampok lagi,
Rasus lari lalu mengumpat dan tiarap di sawah di balik pematang. Setelah itu ia
melihat Kopral Pujo datang membawa bantuan. Dan akhirnya satu orang perampok
tertembak oleh Kopral Pujo, satu orang lolos, dan satu orang lagi tertembak
oleh Sersan Slamet. Setelah suasana sepi, orang-orang Dukuh Paruk keluar dan
berkumpul di rumah Kartareja. Mereka berdecak kagum pada Rasus dan dengan
keberaniannya, Sersan Slamet menjanjikan akan mengangkat Rasus sebagai tentara.
Selagi
berada di Dukuh Paruk, ia memutuskan untuk berkunjung dan bermalam di rumah
neneknya. Ia melihat neneknya semakin tua, kurus, dan makin bungkuk. Ia pun
meminta izin kepada Sersan Slamet untuk beristirahat sambil menemani nenek.
Malam terakhir di Dukuh Paruk, Rasus sulit memejamkan matanya. Sepanjang malam
itu ia memikirkan keinginan Srintil. Srintil ingin menjadi seorang perempuan
seutuhnya yang akan melahirkan anak dari rahimnya, ia tidak ingin lagi menjadi
seorang ronggeng. Srintil ingin agar ia tetap tinggal di Dukuh Paruk, atau ikut
bersamanya dan pergi bergabung dengan kelompok Sersan Slamet. Namun, permintaan
Srintil itu ia tolak. Menjelang fajar
tiba, Rasus bergegas pergi meninggalkan Dukuh Paruk. Ia pergi meninggalkan
nenek dan Srintil yang masih tertidur pulas. Dengan menolak perkawinan yang
ditawarkan Srintil, menurutnya ia telah memberikan sesuatu yang paling berharga
bagi Dukuh Paruk, yaitu ronggeng. Dan yang terpenting di dalam diri Rasus
adalah ia telah mampu menerima kepergian Emak. Ia telah meyakini Emak mati
karena keracunan tempe bongkrek. Mayatnya kemudian dipakai dalam penyelidikan
medis untuk mengetahui segala tetek-bengek tentang racun tempe bongkrek. Ia
sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Ia telah mendapat
pelajaran bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan
membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi. Akhirnya
Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak.
C. Unsur
Intrinsik Novel Ronggeng Dukuh Paruk
Tema
Tema
adalah pokok pembicaraan dalam sebuah cerita. Tema yang diangkat dalam novel Ronggeng
Dukuh Paruk, yaitu tentang pergolakan batin seorang anak yang kehilangan Emak
atau ibunya hingga ia mengidentifikasikan sosok Emak dengan orang lain.
Seseorang yang dimaksud dalam novel ini adalah Rasus, ia kehilangan Emak di
saat ia masih kanak-kanak. Emak tidak diketahui keberadaannya setelah
malapetaka tempe bongkrek. Ada yang mengatakan Emak meninggal di poliklinik
kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke kota Kabupaten. Mayat Emak dibedah
sebagai bahan penyelidikan racun tempe bongkrek. Sehingga mayat Emak tidak
kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan pun tidak tahu di mana mayat Emak
dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak bisa diselamatkan, tetapi sampai
beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan poliklinik. Dan setelah sehat
benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan pergi entah ke mana bersama
mantri yang merawatnya. Kerinduan Rasus kepada Emak mengakibatkan ia
mengidentifikasikan sosok Emak dengan Srintil, teman sepermainannya. Ia
menggabarkan sosok Emak di dalam diri Srintil.
Alur
Alur
atau plot adalah struktur rangkaian kejadian dalam cerita atau jalannya cerita
yang menandai urutan bagian-bagian dalam keseluruhan cerita. Alur yang
digunakan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah alur campuran dan merupakan
alur kronologi yang menceritakan suatu peristiwa sebelas tahun yang lalu, yaitu
peristiwa tempe bongkrek. Di awal penceritaan sebagai tahap penyuntingan,
pencerita memperkenalkan desa yang menjadi latar dari novel ini, pencerita
menceriakan sebuah desa yang bernama Dukuh Paruk dengan memberikan gambaran
fisik desa ini, sejarah desa ini, penghuni desa ini, kepercayaan desa ini, dan
juga kebudayaannya.
“..., Dukuh Paruk hanya dihubungkan oleh jaringan pematang sawah, hampir
dua kilometer panjangnya. Dukuh Paruk, kecil dan menyendiri.” (hlm. 10)
“Dua puluh tiga rumah berada di pedukuhan itu, dihuni oleh orang-orang
seketurunan. Konon, moyang semua orang Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala,
seorang bromocorah yang sengaja mencari daerah paling sunyi sebagai tempat
menghabiskan riwayat keberandalan. Di dukuh Paruk inilah akhirnya Ki
Secamenggala menitipkan darah dagingnya.”
(hlm. 10).
“Semua orang Dukuh Paruk tahu Ki Secamenggala, moyang mereka, ... mereka
memujanya. Kubur Ki Secamenggala ... menjadi kiblat kehidupan batin mereka.” (hlm.
10)
“Dukuh Paruk hanya lengkap bila di sana ada keramat Ki Secamenggala, ada
seloroh cabul, ada sumpah serapah, dan ada ronggeng bersama perangkat
calungnya.” (hlm.15)
Setelah
menceritakan latar tempat, barulah pencerita memperkenalkan tokoh utama dalam
novel ini, yaitu Rasus dan Srintil. Tetapi, di bab pertama tokoh Rasus tidak banyak
diceritakan, hanya diberi tahu bahwa di tepi kampung ada tiga anak laki-laki,
yaitu Rasus, Darsun, dan Warta. Bab pertama lebih banyak menceritakan tokoh
Srintil, gadis kecil berusia sebelas tahun yang pandai menari dan dikatakan
mendapat suatu wangsit untuk menjadi seorang ronggeng yang disebut indang. Selanjutnya penceritaan terus
maju hingga Srintil tampil menari di depan warga Dukuh Paruk. Namun, penampilan
Srintil mengingatkan kembali bencana yang menimpa Dukuh Paruk sebelas tahun
yang lalu, maka alur penceritaannya pun menjadi mundur, plash back ke kejadian sebelas tahun yang lalu tepatnya tahun 1946.
Pada tahun itu Dukuh Paruk terkena malapetaka, malapetaka itu dikenal dengan
malapetaka tempe bongkrek karena hampir seluruh warga Dukuh Paruk meninggal akibat
keracunan tempe bongkrek.
Penceritaan
tentang malapetaka ini berlajut hingga bab dua, di sini tokoh aku, yaitu Rasus
menceritakan bagaimana malapetaka tersebut telah menghilangkan nyawa ayahnya
dan ketidakjelasan akan keberadaan Emak. Di sinilah tahap pemunculan konflik.
Ketidakjelasan akan keberadaan Emak menyebabkan ia selalu berimajinasi, bahkan sosok
Emak ia hidupkan dalam angan-angannya dan ia gambarkan ke dalam diri Srintil.
“Akhirnya kubiarkan Emak hidup abadi dalam alam angan-anganku. Terkadang
Emak datang sebagai angan-angan getir. Terkadang pula dia hadir memberi
kesejukan padaku: Rasus, anak Dukuh Paruk sejati.” (hlm.36)
Selanjutnya alur
cerita terus maju, walau di tengah-tengah sering kali plash back setiap tokoh aku
teringat Emak.
Tahap
kadar intensitas muncul ketika Srintil sudah menjadi seorang ronggeng. Setelah
dua bulan Srintil menjadi ronggeng, ternyata ia belum berhak menyebut dirinya
sebagai ronggeng yang sebenarnya. Karena untuk dapat disebut ronggeng yang
sebenarnya, Srintil harus menjalani dua tahap persyaratan, yaitu upacara
permandian yang secara turun-temurun dilakukan di depan cungkup makam Ki
Secamenggala dan bukak-klambu. Syarat
bukak-klambu menjadi suatu tamparan
yang kencang bagi Rasus, karena bukak-klambu
merupakan suatu sayembara terbuka bagi laki-laki mana pun, dan yang
disayembarakan adalah keperawanan calon ronggeng, itu berarti keperawana
Srintil disayembarakan. Bagaimana bisa seseorang yang dari dirinya Rasus
temukan bayangan Emak disayembarankan keperawanannya. Rasus membayangkan
bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki, sama menjijikannya dengan
membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri. Konflik batin pada diri Rasus
terus terjadi hingga pada tahap klimaksnya Srintil menjalani malam bukak-kambu. Walaupun dirinya yang telah
mendapatkan keperawanan Srintil, ia kesal karena Srintil harus tidur dengan laki-laki lain. Srintil
tidak suci lagi. Rasus benar-benar tidak rela derajat moral Emak sampai
serendah itu. Srintil sebagai cermin
tempatnya mencari bayangan Emak menjadi baur bahkan hancur berkeping. Ia tidak
punya lagi cermin tempat ia mencari bayangan Emak, Dukuh Paruk telah
merenggutnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari pedukuhan itu.
Ia
pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini ia dapat menilai
secara kritis tentang tanah airnya, Dukuh Paruk. Selain itu, setelah banyak pengalamnya
atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan sosok Emak
pada diri Srintil. Ia menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh
Paruk. Dan sebagai tahap penyelesaiannya, Rasus mampu menerima kepergian Emak.
Ia telah meyakini Emak mati karena keracunan tempe bongkrek. Kemudian mayat
Emak dipakai dalam penyelidikan medis untuk mengetahui segala tetek-bengek
tentang racun tempe bongkrek. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat
entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak dan tersadar
bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya
resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi.
Latar
Latar
adalah tempat dan waktu terjadinya cerita. Sesuai dengan judul novelnya Ronggeng
Dukuh Paruk, novel ini berlatar tempat di sebuah pedukuhan bernama Dukuh Paruk.
Sebuah desa terpencil yang dihuni orang-orang berkeyakinan mistis dengan memuja
makam Ki Secamenggala, moyang mereka. Desa ini terkenal dengan kemelaratannya,
keterbelakangannya, keramat Ki Secamenggala, seloroh cabul, sumpah serapah, dan
ronggeng beserta perangkat calungnya.
Hampir
seluruh kejadian terjadi di pedukuhan atau sekitar pedukuhan ini, seperti di
tepi kampung tempat Rasus, Darsun, dan Warta berjuang mencabut singkong; di
bawah pohon nangka tempat Srintil menari dan Rasus, Darsun, serta Warta dan
mereka mengiringi tariannya; di halaman rumah Kartareja tempat Srintil menari
di hadapan warga pedukuhan; di pancuran tempat Rasus memberi papaya kepada
Srintil; di rumah Kartareja tempat Rasus memberi keris kepada Srintil, terjadinya
perundingan antara Kartareja, Istri Kartareja, Dower, dan Sulam, terjadinya
perampokan; di kamar Srintil tempat terjadinya malam bukak-klambu; di
perkuburan Dukuh Paruk tempat Rasus dan Srintil berdiskusi; di makam Ki
Secamenggala tempat Srintil menjalani upacara permandian; di belakang rumah
Kartareja tempat Srintil menyerahkan keperawanannya kepada Rasus; di ujung pematang tempat Rasus dan Kopral Ujo
mengintai dan akhirnya melihat perampok datang ke pedukuhan; di rumah Sakarya
tempat terjadinya perampokkan pertama di pedukuhan; dan di rumah nenek Rasus
tempat Rasus bertemu neneknya dan berdiskusi dengan Srintil dan di tempat
inilah Rasus meninggalkan Srintil dan neneknya.
Selain
berlatar tempat di pedukuhan, novel ini juga bercerita di Dawuan, tempat Rasus
pergi melarikan diri dari pedukuhan; di pasar Dawuan tempat ia bekerja dan di
sini juga kadang-kadang ia berjumpa dengan Srintil; di warung cendol tempat
Srintil dan Rasus berdiskusi; di depan pasar Dawuan tempat kedatangan tentara;
di markas tentara tempat Rasus diminta untuk menjadi Tobang; dan di hutan tempat Rasus menembak patung yang dibuat mirip
mantri yang ia anggap telah membawa kabur Emak.
Kejadian
yang diceritakan pada novel Ronggeng Dukuh Paruk terjadi pada sebelas tahun
setelah malapetaka tempe bongkrek. Di novel dipaparkan malapetaka tempe
bongkrek terjadi pada tahun 1946.
“Sebelas tahun
yang lalu ketika Srintil masih bayi.” (hlm.21)
“Seandainya ada seorang di Dukuh Paruk yang pernah bersekolah, dia dapat
mengira-ngira saat itu hampir pukul dua belas tengah malam, tahun 1946.”
(hlm.21)
Selanjutnya
cerita dilanjutkan setelah dua bulan Srintil menjadi Ronggeng. Diceritakan pada
Jum’at malam, Dower datang ke rumah Kartareja memberi dua buah uang rupiah
perak sebagai panjar. Kemudian Sabtu malam diceritakan sebagai malam bukak-klambu. Cerita pun berlanjut
hingga tahun 1960, pada tahun ini wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman karena
sering terjadinya perampokan dengan kekerasan senjata.
“Sudah dua bulan Srintil menjadi Ronggeng.” (hlm.43)
“Tahun 1960 wilayah Kecamatan Dawuan tidak aman.” (hlm.90)
Kemudian cerita
pun berjalan hingga dua tahun berikutnya. Selain itu, kejadian-kejadian yang
terjadi dalam novel ini sering kali diceritakan pada waktu sore dan malam hari.
Ada juga sebagian latar waktu digambarkan dengan suasananya, seperti “...sampai
matahari menyentuh cakrawala.” (hlm.14); “...pada malam yang bening itu,”
(hlm.15); “Pada hari baik,” (hlm.17); “Dalam haru-biru kepanikan...” (hlm.25);
“Sore hari paling getir yang pernah kualami.” (hlm 68); dan “...sebelum
matahari terbenam,” (hlm.99).
Tokoh dan
Penokohan
Tokoh adalah pelaku di dalam cerita,
sedangkan penokohan adalah bagaimana para pelaku berprilaku di dalam cerita.
Tokoh utama dan juga merupakan tokoh protagonis dalam novel Ronggeng Dukuh
Paruk adalah Rasus, dikatakan demikian karena novel ini menceritakan tentang
pergolakan batin yang terjadi di dalam diri Rasus, dan dalam novel ini tokoh
Rasus yang sering mengalami konflik. Rasus adalah seorang anak yatim piatu
berusia empat belas tahun.
Sudut
Pandang Pencerita
Sudut Pandang Penceritaan adalah
posisi dan penempatan diri pengarang dalam ceritanya, dan di mana ia melihat
kejadian-kejadian yang terdapat dalam cerita itu. Sudut pandang dalam novel
Ronggeng Dukuh Paruk adalah sudut pandang “akuan” sebagai pemain dan narator.
Pemain yang bertindak sebagai pelaku utama cerita merangkap juga sebagai narator
yang menceritakan tentang orang lain. Kadang kala ia terlibat dalam cerita,
tetapi ketika yang lain, ia bertindak sebagai pengamat yang berada di luar
cerita. Dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk, “aku” sebagai pelaku dapat dilihat
dari bagaimana “aku” mengiringi Srintil menari ronggeng di bawah pohon nangka
dengan instrumen mulut, bagaimana “aku” menyelipkan keris warisan mendiang
ayahnya ke bawah bantal Srintil, atau bagaimana “aku” menjadi lelaki pertama
yang menikmati keperawanan Srintil, dan masih banyak yang lainnya. Sedangkan,
“aku” sebagai narator atau pencerita dapat dilihat dari kutipan:
“Dukuh Paruk dengan segala isinya,
termasuk cerita Nenek itu, hanya bisa kurekam setelah aku dewasa. Apa yang
kualami sejak kanak-kanak kusimpan dalam ingatan yang serba sederhana. Dengan
kemampuan seorang anak pula, kurangkaikan cerita sepotong-potong yang kudengar
dari kiri-kanan. Baru setelah aku menginjak usia dua puluh tahun, aku mampu
menyusunnya menjadi sebuah catatan.” (hlm.32)
Selain itu, dapat dilihat juga dari pikiran dan
renungan “aku” yang berisi persoalan yang menyangkut etika, seperti ketika
“aku” menghadapi dilema dua versi yang berlainan tentang kematian Emak; atau
persoalan-persoalan yang sifatnya sangat teknis, seperti ketika “aku”
mendeskripsikan sebab-sebab keracunan tempe bongkrek. Pastinya “aku” pelaku
sebagai seorang bocah desa tak berpendidikan berusia empat belas tahun tidak
mungkin memiliki pemikiran seperti itu, terlebih lagi untuk memahami dengan
jelas istilah-istilah seperti karbohidrat, kalori, evaluasi, fenomena, bakteri pseudomonas coccovenenans, dan virginitas.
Gaya Cerita
atau Gaya Bahasa
Gaya cerita atau gaya bahasa adalah
cara pencerita dalam menyusun dan memilih kata-kata yang ia paparkan di dalam
ceritanya. Kekuatan novel Ronggeng Dukuh Paruk adalah bagaimana Ahmad Tohari
mendeskripsikan latar cerita dengan jelas hingga memasukan beberapa hewan dan
beberapa pohon di dalamnya. Namun, Ahmad Tohari tidak sembarangan memasukan
hewan-hewan tersebut, hewan-hewan tersebut ia masukan sesuai dengan keserasian
terhadap lingkungan hidup, seperti “kearifan alam agar pohon randu baru tidak
tumbuh berdekatan dengan biangnya”, “pohon dadap memilih cara yang hampir sama
bagi penyebaran jenisnya”, dan “kampret harus mau melahap daun waru agar
kehidupan jenisnya lestari”. Dengan begitu, gaya bahasa yang digunakan Ahmad
Tohari begitu agraris, dekat dengan alam, dan masyarakat pedesaan.
Untuk memperkuat bahwa masyarakat
Dukuh Paruk adalah masyarakat yang percaya terhadap mistis, maka Ahmad Tohari
memasukan mantra di dalam novel ini, yaitu mantra agar tampak lebih cantik. Di
sini diceritakan Nyai Kartareja meniupkan mantra pekasih ke ubun-ubun Srintil
agar Srintil tampak lebih cantik.
“uluk-uluk
perkutut manggung
teka saka
ngendi,
teka saka
tanah sabrang
pakanmu apa,
pakanku madu
tawon
manis madu
tawon,
ora manis
kaya putuku, Srintil.” (hlm.18)
Selain itu, sering kali Ahmad Tohari menggunakan
kata-kata kasar di dalam dialog antar tokoh, seperti anjing, asu buntu, bajingan tengik, bangsat, dan
kampret. Ini merupakan penguat bagaimana gambaran masyarakat pedukuhan yang
selalu berkata kasar dan berseloroh cabul.
D. Pergolakan Batin Rasus dalam Novel Ronggeng Dukuh
Paruk
Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita
tentang pergolakan batin Rasus. Rasus adalah seorang anak Dukuh Paruk berusia
empat belas tahun yang ditinggal pergi orang tuanya. Pada saat usianya tiga
tahun terjadi suatu malapetaka di desanya. Malapetaka yang dikenal dengan
malapetaka tempe bongkrek mengakibatkan sebagian warga pedukuhan meninggal. Malapetaka
itu yang menyebabkan ia kehilangan orang tuanya, ayahnya meninggal akibat
keracunan tempe bongkrek sementara Emak tidak diketahui keberadaannya apakah
sudah meninggal atau belum. Ada yang
mengatakan Emak meninggal di poliklinik kota Kawedaan, namun mayatnya dibawa ke
kota Kabupaten. Mayat Emak dibedah sebagai bahan penyelidikan racun tempe
bongkrek. Sehingga mayat Emak tidak kembali ke Dukuh Paruk dan warga pedukuhan
pun tidak tahu di mana mayat Emak dimakamkan. Ada pula orang mengatakan Emak
bisa diselamatkan, tetapi sampai beberapa hari Emak tidak boleh meninggalkan
poliklinik. Dan setelah sehat benar, Emak tidak pulang ke pedukuhan melainkan
pergi entah ke mana bersama mantri yang merawatnya. Rasus cenderung lebih
mempercayai versi pertama karena menurutnya versi pertama lebih baik daripada
versi kedua, meskipun keduanya tinggal menjadi ketidakjelasan yang membuatnya
merana daripada seorang yatim-piatu.
Ketidakjelasaan akan keberadaan Emak
mengakibatkan terjadinya pergolakan batin di dalam diri Rasus. Selama
bertahun-tahun hingga usianya empat belas tahun ia hanya bisa berandai-andai
tentang Emak. Ia biarkan Emak hidup abadi dalam angan-angannya. Bahkan sengaja ia
gambarkan sosok Emak ke dalam diri Srintil. Gambaran tersebut ia reka sendiri
dan dijadikan kepastian dalam hidupnya.
“Ah, sebaiknya kukhayalkan Emak
sudah mati. Ketika dia hidup dia secantik Srintil. Bila sedang tidur, tampillah
Emak sebagai citra perempuan sejati. Ayu, teduh, dan menjadi sumber segala
kesalehan, seperti Srintil saat itu masih lelap...” (hlm.42)
“Tidak bisa kupastikan yang
kurindukan adalah seorang perempuan sebagai kecintaan atau seorang perempuan
sebagai citra seorang emak. Emakku. Atau kedua-duanya. Tetapi jelas, penampilan
Srintil membantuku mewujudkan angan-anganku tentang pribadi perempuan yang
telah melahirkanku. Bahkan juga bentuk lahirnya ... Sudah kukatakan aku belum
pernah atau takkan pernah melihat Emak. Persamaan itu kubangun sendiri.
Lama-lama hal yang kureka sendiri itu kujadikan kepastian dalam hidupku.”
(hlm.45)
Pergolakan batin Rasus semakin
menjadi setelah Srintil menjadi seorang ronggeng, terlebih lagi syarat bukak-klambu yang harus dijalani Srintil
untuk menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya. Keperawanan Srintil
disayembarakan. Bagaimana bisa
seseorang yang dari dirinya Rasus temukan bayangan Emak disayembarankan
keperawanannya. Rasus membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang
laki-laki, sama menjijikannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama
mantri. Konflik batin pada diri Rasus terus terjadi terlebih setelah Srintil
melewati malam bukak-klambu, semua angan-angan
yang telah dibangun Rasus tentang Emak hancur berkeping-keping. Walaupun dirinya yang telah mendapatkan keperawanan
Srintil, ia kesal karena Srintil harus tidur
dengan laki-laki lain. Srintil tidak suci lagi. Rasus benar-benar tidak rela derajat
moral Emak sampai serendah itu. Srintil
sebagai cermin tempatnya mencari bayangan Emak menjadi baur bahkan hancur
berkeping. Ia tidak punya lagi cermin tempat ia mencari bayangan Emak, Dukuh
Paruk telah merenggutnya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari pedukuhan
itu.
“Pengingkat yang membuatku mencintai Dukuh Paruk telah direnggut
kembali. Aku tidak lagi mempunyai cermin tempat aku mencari baying-bayang Emak.
Sakitku terasa lebih perih daripada saat aku belum mengenal Srintil.” (hlm.80)
Ia
pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini ia dapat menilai
secara kritis tentang tanah airnya, Dukuh Paruk. Selain itu, setelah banyak
pengalamnya atas dunia perempuan di luar Srintil, Rasus tidak lagi melukiskan
sosok Emak pada diri Srintil.
“Sosok Emak yang kulukis dalam angan-angan selama bertahun-tahun, dengan
berat hati harus kumusnahkan. Dulu aku begitu yakin Emak mempunyai cambang
halus di pipi seperti Srintil. Atau lesung pipi di pipi kiri. Suaranya lembut
dan sejuk dengan senyum yang menawarkan duka seorang anak yang selalu
merindukannya. Kulitnya putih, dadanya subur, tempat selama dua tahun aku
bergantung menetek dan bermanja.” (hlm.87)
Sebagai
gantinya, Rasus menggambarkan sosok Emak sebagaimana perempuan Dukuh Paruk
dengan ciri-ciri khas Dukuh Paruk.
“Sebagai gantinya muncul perempuan lain dengan ciri-ciri khas Dukuh
Paruk. Rambut Kusut dengan ujung kemerahan. Wajah lesu dan pucat karena
sehari-hari tidak cukup makan. Sepasang tetek dengan putting hitam, hanya subur
pada waktu panen. Sepasang telapak kaki yang lebar dengan endapan daki
melapisinya. Kata-katanya kasar dengan selingan serapah cabul. Itulah gambaran
seorang perempuan Dukuh Paruk, gambaran yang lebih masuk akal. Aku harus mulai
belajar menerima kenyataan bahwa sebagai perempuan Dukuh Paruk, Emak memiliki
ciri-ciri seperti itu pula.” (hlm.87)
Akhirnya sedikit
demi kedudukan Srintil di dalam jiwa Rasus bergeser ke tempat yang lebih wajar.
Pergolakan
batin di dalam diri Rasus pun merenggang bahkan hilang. Hingga akhirnya ia
mampu menerima kepergian Emak. Ia telah meyakini Emak mati karena keracunan
tempe bongkrek. Kemudian mayat Emak dipakai dalam penyelidikan medis untuk
mengetahui segala macam tentang racun tempe bongkrek. Ia sudah merelakan Emak
dikuburkan disuatu tempat entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa
bayangan Emak dan tersadar bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia
lakukan hanya akan membuatnya resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia
ulangi.
“Aku sudah mendapat pelajaran. Berusaha mencari gambaran Emak yang
selama ini kulakukan hanya membuahkan hasil keresahan. Kekeliruan semacam itu
takkan pernah kuulangi.” (hlm.106)
“Tetapi sebenarnya perasaan itu
muncul bukan karena ada sebuah bedil di pundak, melainkan karena aku telah
begitu yakin mampu hidup tanpa kehadiran bayangan Emak.” (hlm.107)
BAB III
PENUTUPAN
Simpulan
Novel Ronggeng Dukuh Paruk bercerita
tentang pergolakan batin Rasus. Pergelokan itu terjadi akibat ketidakjelasan
akan keberadaan Emak. Selama bertahun-tahun ia hanya bisa berandai-andai
tentang Emak. Ia biarkan Emak hidup abadi dalam angan-angannya. Bahkan sengaja
ia gambarkan sosok Emak ke dalam diri Srintil. Pergolakan batin Rasus semakin
menjadi setelah Srintil menjadi seorang ronggeng, terlebih lagi syarat bukak-klambu yang harus dijalani Srintil
untuk menjadi seorang ronggeng yang sebenarnya. Rasus membayangkan bagaimana Srintil tidur bersama seorang laki-laki,
sama menjijikannya dengan membayangkan Emak melarikan diri bersama mantri.
Konflik
batin pada diri Rasus terus terjadi terlebih setelah Srintil melewati malam bukak-klambu, semua
angan-angan yang telah dibangun Rasus tentang Emak hancur berkeping-keping.
Rasus benar-benar tidak rela derajat moral Emak sampai serendah itu. Srintil sebagai cermin tempatnya mencari bayangan Emak
menjadi baur bahkan hancur berkeping. Ia tidak punya lagi cermin tempat ia
mencari bayangan Emak, Dukuh Paruk telah merenggutnya. Dan akhirnya ia
memutuskan untuk pergi dari pedukuhan itu.
Ia
pergi ke Dawuan dan bekerja di pasar Dawuan. Di desa ini sedikit demi kedudukan
Srintil di dalam jiwa Rasus bergeser ke tempat yang lebih wajar. Pergolakan
batin di dalam diri Rasus pun merenggang bahkan hilang. Hingga akhirnya ia
mampu menerima kepergian Emak. Ia sudah merelakan Emak dikuburkan disuatu tempat
entah di mana. Akhirnya Rasus mampu hidup tanpa bayangan Emak dan tersadar
bahwa mencari gambaran Emak yang selama ini ia lakukan hanya akan membuatnya
resah dan kekeliruan semacam ini takkan pernah ia ulangi.
DAFTAR
PUSTAKA
Endarmoko, Eko. 1984. “Perihal Ronggeng Srintil” dalam
majalah Horison edisi Januari. Jakarta.
Kutha, Nyoman Ratna. 2008. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
K.S.,Yudiono.
1986. Telaah Kritik Sastra Indonesia.
Bandung: Angkasa.
K.S.,Yudiono. 2007. Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: PT Grasindo.
Semi,
M. Atar. 1988. Anatomi Sastra.
Padang: Angkasa Raya.
Tohari, Ahmad. 2003. Ronggeng
Dukuh Paruk. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Langganan:
Postingan (Atom)
