Kamis, 08 September 2011

Amir Hamzah:Hanyut Aku


BAB I
PENDAHULUAN

Nama lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah. Ia dijuluki Raja Penyair Pujangga Baru dan bergelar Pangeran Indra Putra. Ia dilahirkan di Tanjung Pura, Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Mula-mula ia menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916. Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum.
Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini  berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu ia adalah Pangeran Langkat Hulu di Binjai. Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung. Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah Revolusi Sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Buah karya Amir Hamzah salah satunya adalah Nyanyian Sunyi. Nyanyian Sunyi merupakan kumpulan puisi yang mencerminkan pergolakan manusia untuk menemukan hakikat Tuhan. Di dalamya ditemukan konsep-konsep pencarian Tuhan dengan metafora dan simbol-simbol. Di dalam buku kumpulan puisi tersebut terdapat judul puisi “Hanyut Aku”. Puisi tersebut akan dibahas pada makalah ini.


1d1
 
 

BAB II
AMIR HAMZAH : HANYUT AKU

A. Analisis Struktur Kepuitisan
Ada kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan, yaitu:
1. Pilihan Kata
Kata-kata di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi, imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang terdapat dalam puisi “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah:
Hanyut Aku
Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
Ulurkan tanganmu, tolong aku
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
        tiada air menolak ngelak
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
        sebab diammu
Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam
Tenggelam dalam malam
Air di atas menidih keras
Bumi di bawah menolak ke atas
Mati aku, kekasihku, mati aku!
2
 
Pilihan kata yang digunakan seorang Amir Hamzah sangat indah, karena kata-kata yang digunakan menggunakan kata-kata yang mudah dipahami misalnya dalam sajak yang berjudul “Hanyut Aku”. Selain itu penyusunan kata-katanya sangat tepat dan pemilihan untuk pembentukan sebuah sajak memperhatikan kesesuaiaan kata yang digunakan serta penyusunan antarkata sangat indah.
2. Bahasa Kiasan
Bahasa kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencapai aspek kepuitisan atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya. Dalam penulisan sebuah sajak, bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Bahasa kiasan dipergunakan untuk memperindah sajak- sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak yang tedapat dalam puisi “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah adalah sebagai berikut:
a) Repetisi
Repetisi adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak terdapat dalam:
Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
.....................................
Mati aku, kekasihku, mati aku!
b) Pesonifikasi
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah hidup. Dalam sajak terdapat dalam:
.....................................
   tiada air menolak ngelak
.....................................
Langit menyerkap, air berlepas tangan, ............
c) Simbolik
Simbolik pada dasarnya adalah kiasan tapi isinya lebih luas, tidak hanya menggantikan benda atau hal yang disimbolkan saja, tetapi juga memberikan tambahan konotasi. Dengan simbolik sesuatu yang abstrak bisa dijadikan lebih konkrit, dan dengan simbolik dapat juga memberikan kesan yang dalam dan pengalaman yang luas tentang sesuatu keadaan atau hal yang mempunyai sifat bermacam-macam.[1] Simbolik banyak digunakan dalam pengimajian. Kata-kata yang terdapat dalam sajak “Hanyut Aku” merupakan simbol menyatakan kesedihan.
3. Citraan
Citraan adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh dan tuntas.
Citraan dalam puisi terdiri dari citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan, citraan penciuman, citraan pencicipan atau pencecapan, dan citraan gerak. Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan kata- kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam sajak “Hanyut Aku” citraan yang digunakan, yaitu:
·         Citraan penglihatan:
Langit menyerkap, air berlepas tangan, ............
Air di atas menidih keras
Bumi di bawah menolak ke atas
·         Citraan pendengaran:
Sunyinya sekelilingku!
Tiada suara kasihan, ........................
·         Citraan perabaan:
...................., tiada angin mendingin hati,
  ............................
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, ..........
·         Citraan gerak:
Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
...................., aku tenggelam
Mati aku, kekasihku, mati aku!
4. Sarana Retorika
Sarana retorika pada dasarnya merupakan tipu muslihat pikiran yang mempergunakan susunan bahasa yang khas sehingga pendengar seperti dituntut untuk berpikir. Dalam menyampaikan sebuah ide atau gagasan Amir Hamzah cenderung pada aliran mistisisme, namun dalam sajak “Hanyut Aku” lebih dominan pada aliran ekspresionisme. Penyair ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak dalam jiwanya. Amir Hamzah menyatakan perasaan cintanya, bencinya, rasa kemanusiaannya, rasa ketuhanannya yang tersimpan dalam dadanya.
Sajak “Hanyut Aku” merupakan sajak bebas, di mana sajak bebas adalah sajak yang baitnya tidak terikat pada jumlah larik tertentu serta jumlah kata setiap lariknya dan iramanya tidak tetap. Dalam sajak ini, Amir Hamzah memakai bunyi konsonan dan vokal untuk menimbulkan suatu suasana yang sesuai dengan isi perasaan atau pikiran yang sedang diucapkannya, seperti Tenggelam dalam malam bunyi vokal [a] dan konsonan [m] sama-sama memberi perasaan yang berat dan kelam.
B. Analisis Semiotik
Studi sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur dalam atau hubungan dalamnya, akan dihasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik itu tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural, dan sebaliknya. Tugas semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai produksi arti dalam puisi. Dalam sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah merupakan ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair.
Sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan. Sajak ini merupakan teriakan dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya dari keadaannya yang amat malang. Keadaan yang mengharuskan ia menyerah kepada aturan-aturan dan hukum-hukum masyarakat dan kebudayaan, dan keadaan yang mengharuskan ia melepas cita-cita kebebasan pribadi, kebebasan penentuan hidup sendiri, dan cita-cita demokrasi. Puncak keharusan untuk melepas kebebasannya itu terjadi di mana ia harus menikahi anak Sultan Langkat sementara ia jatuh cinta kepada seorang gadis Jawa, Ilik Sundari. Dalam kekalahannya menyerah kepada kekuasaan, menghianati cintanya yang dipilihnya sendiri dengan kemauannya sendiri sebagai manusia yang bebas, timbul keinginannya untuk mati, terlihat pada sajak terakhir: Mati aku, kekasihku, mati aku!
            Pada sajak “Hanyut Aku”, di sini Amir Hamzah benar-benar merasa hancur dan menderita terhadap permasalahan hidupnya, hal ini tertuang dalam kata Hanyut Aku, ia merasa hanyut dan tenggelam akan penderitaannya. Ia minta tolong dan berharap seseorang yaitu kekasihnya untuk mengulurkan tangan dan membantunya untuk naik dari ketenggelamannya, terlihat pada sajak Ulurkan tanganmu, tolong aku. Penderitaan itu ia hadapi sendiri dan disekelilingnya sepi, dan di saat ia tenggelam, ia merasa tidak ada yang dapat menolongnya, tidak ada yang mengerti akan penderitaannya, dan tidak ada yang dapat menenangkan hatinya, terlihat pada sajak Sunyinya sekelilingku!/ Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, tiada air menolak ngelak. Begitupun dengan kekasihnya, kekasih yang ia harapkan untuk dapat menolongnya ternyata tidak dapat menolongnya. Sang kekasih hanya diam dan itu membuat Amir Hamzah semakin hancur dan putus asa, terlihat pada sajak Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku sebab diammu. Ternyata kediaman kekasihnya menambah deritanya dan itu membuat ia semakin hanyut dan tenggelam, Langit menyerkap, air berlepas tangan,/ aku tenggelam/ Tenggelam dalam malam/ Air di atas menidih keras/ Bumi di bawah menolak ke atas. Sajak tersebut menguatkan bahwa ia semakin tenggelam akan kependeritaannya, semakin tidak kuat menghadapi permasalahan hidupnya. Sampai akhirnya ia menyerah dan putus asa sehingga terbesit keinginannya untuk mati, dan itu tertuang pada sajak terakhir Mati aku, kekasihku, mati aku!.
Jika dilihat dari kisah hidup Amir Hamzah, sajak “Hanyut Aku” merupakan curahan hati Amir Hamzah untuk kekasihnya, Ilik Sundari. Sehingga kekasihku yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” adalah Ilik Sundari. Namun, sebagian pengamat sastra yang menilai Amir Hamzah sebagai sastrawan aliran mistisisme atau sufisme berpendapat bahwa kekasihku yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” adalah Tuhan. Menyebut Tuhan dengan kekasih merupakan manifestasi dari rasa cinta Amir Hamzah kepada Tuhan. Di sini ia meminta tolong kepada Tuhan akan penderitaan atau permasalahan yang ia hadapi. Ia merasa hanya Tuhanlah yang dapat menolongnya, sehingga jika Tuhan diam dan tidak menolongnya ia akan mati. Tidak ada yang dapat  menyelesaikan penderitaan dan permasalahan hidupnya kecuali Tuhan, ia pun minta tolong kepada Tuhan, dan menegaskan kembali jika Tuhan tidak menolongnya maka ia akan mati.  Jadi, Kekasihku yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia yaitu Ilik Sundari, dapat juga diartikan Tuhan.
            Perasaan kalah dan berkhianat maupun sebagai penjelmaan terumbang ambing jiwanya dari suatu saat ke saat yang lain dalam menghadapi kekasih dunianya, dalam menghadapi kaum keluarga di sekitarnya, maupun dalam menghadapi Tuhan serwa sekalian alam, dapatlah kia sekarang keluar menghadapi bentuk keindahan yang mengikat curahan kekalahan, kesedihan, dan penderitaan Amir Hamzah yang amat dalam itu.[2] Dengan begitu, Amir Hamzah telah berhasil menjelmakan deraan dan siksaan kata hatinya menjadi sekumpulan sajak yang mahaindah.














BAB III
PENUTUPAN

·         Sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan.
·         Sajak “Hanyut Aku” merupakan teriakan dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya dari keadaannya yang amat malang.
·         Kekasihku yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia dapat juga diartikan Tuhan.















8
 
 

PUSTAKA ACUAN

Alisjahbana, S. Takdir. 1985. Amir Hamzah: Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu. “Biografi Tengku Amir Hamzah” dalam www.tengkuamirhamzah.com. Yogyakarta.
Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Tamoe, Syam S. 2010. “Analisis Isi Puisi Sufistik ‘Padamu Jua’ karya Amir Hamzah” dalam www.syamstamoe.co.cc. Jakarta.


 


[1] M. Atar Semi, Anatomi Sastra, Padang, 1988, hal. 133-134.
[2] S. Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah: Penyair Besar Antara Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi, Jakarta, 1985, hal. 30.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar