PENDAHULUAN
Nama
lengkap Amir Hamzah adalah Tengku Amir Hamzah. Ia dijuluki Raja Penyair
Pujangga Baru dan bergelar Pangeran Indra Putra. Ia dilahirkan di Tanjung Pura,
Langkat, Sumatra Utara, pada 28 Februari 1911. Amir Hamzah tumbuh dalam lingkungan
bangsawan Langkat yang taat pada agama Islam. Mula-mula ia
menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916.
Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan.
Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah
pertamanya pada tahun 1927. Kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah
menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia
kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana
Muda Hukum.
Riwayat
hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir
Hamzah diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang
berkedudukan di Binjai. Ketika itu ia adalah Pangeran Langkat Hulu di Binjai.
Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat
terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui
Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946.
Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepada
rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum
pancung. Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang
tidak bersalah dari sebuah Revolusi Sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI
menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional.
Buah
karya Amir Hamzah salah satunya adalah Nyanyian Sunyi. Nyanyian Sunyi merupakan
kumpulan puisi yang mencerminkan pergolakan manusia untuk menemukan hakikat Tuhan.
Di dalamya ditemukan konsep-konsep pencarian Tuhan dengan metafora dan
simbol-simbol. Di dalam buku kumpulan puisi tersebut terdapat judul puisi “Hanyut
Aku”. Puisi tersebut akan dibahas pada makalah ini.
|
AMIR HAMZAH :
HANYUT AKU
A.
Analisis Struktur Kepuitisan
Ada
kriteria dalam menganalisis struktur kepuitisan, yaitu:
1.
Pilihan Kata
Kata-kata
di dalam sajak adalah kata-kata yang sama sekali berbeda dengan teks dalam
bentuk yang lain. Kata-kata dalam sajak memiliki peran sangat esensial karena
ia tidak saja harus mampu menyampaikan gagasan, tetapi juga dituntut untuk
mampu menggambarkan imaji sang penyair dan memberikan impresi ke dalam diri
pembacanya, karena itu kata-kata dalam puisi lebih mengutamakan intuisi,
imajinasi, dan sintesis. Pilihan kata yang terdapat dalam puisi “Hanyut Aku”
karya Amir Hamzah:
Hanyut Aku
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
Ulurkan
tanganmu, tolong aku
Sunyinya
sekelilingku!
Tiada
suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak
Dahagakan
kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebab diammu
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam
Tenggelam
dalam malam
Air
di atas menidih keras
Bumi
di bawah menolak ke atas
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
|
2.
Bahasa Kiasan
Bahasa
kiasan merupakan alat yang dipergunakan penyair untuk mencapai aspek kepuitisan
atau sebuah kata yang mempunyai arti secara konotatif tidak secara sebenarnya.
Dalam penulisan sebuah sajak, bahasa kiasan ini digunakan untuk memperindah
tampilan atau bentuk muka dari sebuah sajak. Bahasa kiasan dipergunakan untuk memperindah
sajak- sajak yang ditulis seorang penyair. Bahasa sajak yang tedapat dalam puisi
“Hanyut Aku” karya Amir Hamzah adalah sebagai berikut:
a)
Repetisi
Repetisi
adalah pengulangan bunyi, suku kata, kata, atau bagian kalimat yang dianggap
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang sesuai. Dalam sajak
terdapat dalam:
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
.....................................
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
b)
Pesonifikasi
Personifikasi
adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda mati seolah-olah
hidup. Dalam sajak terdapat dalam:
.....................................
tiada air menolak ngelak
.....................................
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, ............
c)
Simbolik
Simbolik
pada dasarnya adalah kiasan tapi isinya lebih luas, tidak hanya menggantikan
benda atau hal yang disimbolkan saja, tetapi juga memberikan tambahan konotasi.
Dengan simbolik sesuatu yang abstrak bisa dijadikan lebih konkrit, dan dengan
simbolik dapat juga memberikan kesan yang dalam dan pengalaman yang luas
tentang sesuatu keadaan atau hal yang mempunyai sifat bermacam-macam.[1]
Simbolik banyak digunakan dalam pengimajian. Kata-kata yang terdapat dalam
sajak “Hanyut Aku” merupakan simbol menyatakan kesedihan.
3.
Citraan
Citraan
adalah satuan ungkapan yang dapat menimbulkan hadirnya kesan keindrawian atau
kesan mental tertentu. Unsur citraan dalam sebuah puisi merupakan unsur yang
sangat penting dalam mengembangkan keutuhan puisi, sebab melaluinya kita
menemukan atau dihadapkan pada sesuatu yang tampak konkret yang dapat membantu
kita dalam menginterpretasikan dan menghayati sebuah puisi secara menyeluruh
dan tuntas.
Citraan
dalam puisi terdiri dari citraan penglihatan, citraan pendengaran, citraan perabaan,
citraan penciuman, citraan pencicipan atau pencecapan, dan citraan gerak.
Penggunaan citraan dalam puisi melibatkan hampir semua anggota tubuh kita, baik
alat indra maupun anggota tubuh, seperti kepala, tangan, dan kaki. Untuk dapat
menemukan sumber citraan yang terdapat dalam puisi, pembaca harus memahami
puisi dengan melibatkan alat indra dan anggota tubuh untuk dapat menemukan
kata- kata yang berkaitan dengan citraan.
Dalam
sajak “Hanyut Aku” citraan yang digunakan, yaitu:
·
Citraan penglihatan:
Langit
menyerkap, air berlepas tangan, ............
Air
di atas menidih keras
Bumi
di bawah menolak ke atas
·
Citraan pendengaran:
Sunyinya
sekelilingku!
Tiada
suara kasihan, ........................
·
Citraan perabaan:
....................,
tiada angin mendingin hati,
............................
Dahagakan
kasihmu, hauskan bisikmu, ..........
·
Citraan gerak:
Hanyut
aku, kekasihku!
Hanyut
aku!
....................,
aku tenggelam
Mati
aku, kekasihku, mati aku!
4.
Sarana Retorika
Sarana
retorika pada dasarnya merupakan tipu muslihat pikiran yang mempergunakan
susunan bahasa yang khas sehingga pendengar seperti dituntut untuk berpikir. Dalam
menyampaikan sebuah ide atau gagasan Amir Hamzah cenderung pada aliran mistisisme,
namun dalam sajak “Hanyut Aku” lebih dominan pada aliran ekspresionisme. Penyair ekspresionisme merasakan apa yang bergejolak
dalam jiwanya. Amir Hamzah menyatakan perasaan cintanya, bencinya, rasa
kemanusiaannya, rasa ketuhanannya yang tersimpan dalam dadanya.
Sajak
“Hanyut Aku” merupakan sajak bebas, di mana sajak bebas adalah sajak yang baitnya tidak terikat
pada jumlah larik tertentu serta jumlah kata setiap lariknya dan iramanya tidak
tetap. Dalam sajak ini, Amir Hamzah memakai bunyi konsonan dan vokal untuk
menimbulkan suatu suasana yang sesuai dengan isi perasaan atau pikiran yang
sedang diucapkannya, seperti Tenggelam
dalam malam bunyi vokal [a] dan konsonan [m] sama-sama memberi perasaan
yang berat dan kelam.
B. Analisis Semiotik
Studi
sastra bersifat semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu
sistem tanda-tanda dan menentukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya
sastra mempunyai arti. Dengan melihat variasi-variasi di dalam struktur dalam
atau hubungan dalamnya, akan dihasilkan bermacam-macam arti. Analisis semiotik
itu tidak dapat dipisahkan dari analisis struktural, dan sebaliknya. Tugas
semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai
produksi arti dalam puisi. Dalam sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah merupakan
ungkapan perasaan yang dirasakan oleh penyair.
Sajak “Hanyut Aku”
karya Amir Hamzah menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan. Sajak
ini merupakan teriakan dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya
dari keadaannya yang amat malang. Keadaan yang mengharuskan ia menyerah kepada
aturan-aturan dan hukum-hukum masyarakat dan kebudayaan, dan keadaan yang
mengharuskan ia melepas cita-cita kebebasan pribadi, kebebasan penentuan hidup
sendiri, dan cita-cita demokrasi. Puncak keharusan untuk melepas kebebasannya
itu terjadi di mana ia harus menikahi anak Sultan Langkat sementara ia jatuh
cinta kepada seorang gadis Jawa, Ilik Sundari. Dalam kekalahannya menyerah
kepada kekuasaan, menghianati cintanya yang dipilihnya sendiri dengan
kemauannya sendiri sebagai manusia yang bebas, timbul keinginannya untuk mati,
terlihat pada sajak terakhir: Mati aku,
kekasihku, mati aku!
Pada sajak “Hanyut Aku”, di sini Amir Hamzah benar-benar
merasa hancur dan menderita terhadap permasalahan hidupnya, hal ini tertuang
dalam kata Hanyut Aku, ia merasa
hanyut dan tenggelam akan penderitaannya. Ia minta tolong dan berharap
seseorang yaitu kekasihnya untuk mengulurkan tangan dan membantunya untuk naik
dari ketenggelamannya, terlihat pada sajak Ulurkan
tanganmu, tolong aku. Penderitaan itu ia hadapi sendiri dan disekelilingnya
sepi, dan di saat ia tenggelam, ia merasa tidak ada yang dapat menolongnya,
tidak ada yang mengerti akan penderitaannya, dan tidak ada yang dapat
menenangkan hatinya, terlihat pada sajak Sunyinya
sekelilingku!/ Tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati, tiada air menolak ngelak. Begitupun
dengan kekasihnya, kekasih yang ia harapkan untuk dapat menolongnya ternyata
tidak dapat menolongnya. Sang kekasih hanya diam dan itu membuat Amir Hamzah
semakin hancur dan putus asa, terlihat pada sajak Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku sebab diammu. Ternyata
kediaman kekasihnya menambah deritanya dan itu membuat ia semakin hanyut dan
tenggelam, Langit menyerkap, air berlepas
tangan,/ aku tenggelam/ Tenggelam dalam malam/ Air di atas menidih keras/ Bumi
di bawah menolak ke atas. Sajak tersebut menguatkan bahwa ia semakin
tenggelam akan kependeritaannya, semakin tidak kuat menghadapi permasalahan
hidupnya. Sampai akhirnya ia menyerah dan putus asa sehingga terbesit
keinginannya untuk mati, dan itu tertuang pada sajak terakhir Mati aku, kekasihku, mati aku!.
Jika dilihat dari kisah
hidup Amir Hamzah, sajak “Hanyut Aku” merupakan curahan hati Amir Hamzah untuk kekasihnya, Ilik Sundari. Sehingga
kekasihku yang dimaksud dalam sajak
“Hanyut Aku” adalah Ilik Sundari. Namun, sebagian pengamat sastra yang menilai
Amir Hamzah sebagai sastrawan aliran mistisisme atau sufisme berpendapat bahwa kekasihku yang dimaksud dalam sajak
“Hanyut Aku” adalah Tuhan. Menyebut Tuhan dengan kekasih merupakan manifestasi
dari rasa cinta Amir Hamzah kepada Tuhan. Di sini ia meminta tolong kepada
Tuhan akan penderitaan atau permasalahan yang ia hadapi. Ia merasa hanya
Tuhanlah yang dapat menolongnya, sehingga jika Tuhan diam dan tidak menolongnya
ia akan mati. Tidak ada yang dapat
menyelesaikan penderitaan dan permasalahan hidupnya kecuali Tuhan, ia
pun minta tolong kepada Tuhan, dan menegaskan kembali jika Tuhan tidak
menolongnya maka ia akan mati. Jadi, Kekasihku
yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia
yaitu Ilik Sundari, dapat juga diartikan Tuhan.
Perasaan kalah dan berkhianat maupun sebagai penjelmaan
terumbang ambing jiwanya dari suatu saat ke saat yang lain dalam menghadapi
kekasih dunianya, dalam menghadapi kaum keluarga di sekitarnya, maupun dalam
menghadapi Tuhan serwa sekalian alam, dapatlah kia sekarang keluar menghadapi bentuk
keindahan yang mengikat curahan kekalahan, kesedihan, dan penderitaan Amir
Hamzah yang amat dalam itu.[2]
Dengan begitu, Amir Hamzah telah berhasil menjelmakan deraan dan siksaan kata
hatinya menjadi sekumpulan sajak yang mahaindah.
BAB
III
PENUTUPAN
·
Sajak “Hanyut Aku” karya Amir Hamzah
menggambarkan jeritan orang putus asa minta pertolongan.
·
Sajak “Hanyut Aku” merupakan teriakan
dari Amir Hamzah supaya orang membantu melepaskannya dari keadaannya yang amat
malang.
·
Kekasihku
yang dimaksud dalam sajak “Hanyut Aku” dapat diartikan kekasihnya di dunia dapat
juga diartikan Tuhan.
|
Alisjahbana, S. Takdir.
1985. Amir Hamzah: Penyair Besar Antara
Dua Zaman dan Uraian Nyanyian Sunyi. Jakarta: Dian Rakyat.
Balai Kajian dan
Pengembangan Budaya Melayu. “Biografi Tengku Amir Hamzah” dalam www.tengkuamirhamzah.com.
Yogyakarta.
Semi, M. Atar. 1988. Anatomi Sastra. Padang: Angkasa Raya.
Tamoe, Syam S. 2010.
“Analisis Isi Puisi Sufistik ‘Padamu Jua’ karya Amir Hamzah” dalam www.syamstamoe.co.cc.
Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar