BENCI TERAMAT SAYANG
Gelap bagai hitam yang pekat, mungkin itu kehidupanku. Tidak! bukan kehidupanku, tapi kehidupan sesosok perempuan yang telah kutumpangi janinnya. Apakah aku harus membenci wanita itu? Wanita biadab! Entahlah, kenapa aku harus berpikir seperti itu? Seharusnya aku mencintainya, menyayanginya, dan menghormatinya selayaknya seorang anak terhadap ibunya. Tapi dia memang tak pantas untuk kusayangi, kucintai, dan kuhormati. Ya Tuhan, apakah aku berdosa membencinya? Tidak! Dia yang berdosa! Bagiku dia yang berdosa!
Setiap malam aku selalu berjumpa dengan laki-laki yang tak pernah memikirkan keluarganya, laki-laki yang selalu mencari kesenangan dengan perbuatan haram, dan laki-laki yang tak seorang pun darinya aku kenal. Aku selalu berjumpa dengan mereka di rumah yang terkutuk ini. Mereka adalah tamu ibuku, tamu yang selalu datang tiap malam untuk memperoleh kepuasan biologis mereka dari tubuh ibuku. Aku sudah tidak betah hidup di rumah ini walaupun kami baru tinggal satu minggu. Iya, kami baru satu minggu tinggal di sini dan aku yakin sebentar lagi kami akan pindah dari rumah ini. Pindah karena diusir warga setempat yang merasa terganggu dari pekerjaan ibu yang kotor. Pantaslah mereka marah dan terganggu, siapa yang mau lingkungannya dikotori oleh perbuatan laknat. Dan mereka takut kena sial atau terkena imbas dari pekerjaan ibu yang sangat menjijikan. Entahlah sudah berapa kali kami pindah rumah, namun aku selalu merasa tidak betah. Bukan kondisi rumah yang membuat aku tidak betah, tetapi perbuatan-perbuatan sang penghunilah yang membuatku tidak betah. Rasanya aku ingin pergi dan meninggalkan ibu, tapi bagaimanapun ia tetap ibuku sehingga aku tidak bisa meninggalkannya sendiri.
Di rumah ini, aku hanya tinggal berdua dengan ibu. Aku tidak tahu apakah aku masih memiliki ayah atau tidak, karena ayah meninggalkan kami ketika aku masih duduk di kelas enam SD. Sampai sekarang, sampai usiaku lima belas tahun, aku tidak pernah tahu apa alasan ayah meninggalkan aku dan ibu. Semenjak inilah kehidupanku berantakan, ibu menjadi seorang PSK dan aku menjadi pengamen jalanan.
“TOK…TOK…TOK...!” tiba-tiba suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
“Ada apa? dan Anda siapa?” tanyaku kepada seseorang di balik pintu yang tak pernah ku tahu siapa dirinya.
“Gue Sofie temen nyokap lo, Lo Gadis kan anaknya Marsinah?” jawab wanita itu dengan cepat.
“Ya, kenapa?” tanyaku balik.
“Nyokap lo tadi pingsan di jalan, sekarang dia ada di rumah sakit Suka Sehat. Udah, sekarang lo ikut gue buat nemuin nyokap lo!” wanita itu menjawab dan langsung menarik tanganku.
Selama di perjalanan, aku tidak tenang memikirkan ibuku. Kenapa ibu bisa pingsan? Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Ibu!
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung berlari menuju ruang UGD karena tante Sofie yang mengaku sebagai teman ibuku itu mengatakan bahwa ibu sedang terbaring lemas tak sadarkan diri di ruang tersebut. Benar saja, sesampainya ku di sana aku melihat sesosok wanita paruh baya yang terbaring lemas dan tak sadarkan diri dan wanita itu adalah ibuku. Aku menghampirinya dan kutatap wajahnya yang terlihat sangat pucat dengan mata terpejam. Entah mengapa rasa benci yang dulu tertanam kini layu begitu saja. Tiba-tiba ada rasa iba dan dengan spontan aku mengelus kepalanya dan menggenggam erat tangannya. Tanpa sadar ada air mata mengembang di pelupuk mataku. Tidak lama kemudian, tante Sofie menghapiri kami dan mengelus bahuku. Kedatangannya diikuti seorang dokter.
Dokter itu menghampiri aku dan berkata, “Aku dokter Hilmi. Aku dokter yang menangani ibu Marsinah. Apakah kamu anak ibu Marsinah?”
“Iya, aku Gadis anak ibu Marsinah. Ibu saya kenapa, Dok? Ibu saya sakit apa? Kenapa ia bisa pingsan?” Aku pun menghampirinya, membalas jabatan tangannya, dan bertanya dengan rasa penasaran dan cemas.
“Sebaiknya kamu ikut saya! Lebih baik kita bicarakan di ruangan saya. Oh iya, ibu kamu harus dipindahkan ke ruang ICU biar perawat yang mengurus semuanya.” Dokter itu berjalan menuju ruangannya dan aku mengikutinya dari belakang, sebelumnya aku minta tolong tante Sofie untuk menemani ibu.
Ternyata ruangan tersebut tidak jauh dari ruang UGD dan ICU. Sesampainya di ruang tersebut, dokter Hilmi mempersilahkan aku untuk duduk.
“Ini hasil pemeriksaan ibu Marsinah.” Dokter itu memberi surat keterangan yang masih terbungkus amplop.
Dengan pelan-pelan aku buka surat itu dan membacanya. Deg! Tiba-tiba jantung aku seperti berhenti berdetak dan dadaku sesak. Surat itu menerangkan bahwa ibu positif terinfeksi virus HIV dan mengidap penyakit AIDS. Aku langsung menatap dokter seakan bertanya apakah keterangan dari surat tersebut benar? Apakah hasil pemerisaan itu tidak salah?
Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulutku, dokter itu lebih dulu menjawab, “Hasil pemeriksaan itu benar. Ibu kamu terinfeksi virus HIV dan kurang lebih sudah tiga tahun mengidap penyakit AIDS. Sekarang sistem kekebalan tubuhnya sangat lemah bahkan penyakitnya sudah sangat parah. Kamu yang sabar dan tabah! Maaf, kami sebagai dokter tidak dapat menjamin kesembuhan ibu kamu, namun kami tetap berusaha sekuat tenaga. Semuanya kita kembalikan lagi pada Tuhan.”
“Baik. Terima kasih, Dok!” Aku pun langsung ke luar meninggalkan ruangan tersebut. Rasanya kenyataan itu bagai ledakan yang menyentak kuat. Aku hancur. Nasehat dokter bagiku tak cukup membantu.
Aku melihat tante Sofie duduk di ruang tunggu ICU. Itu berarti Ibu telah dipindahkan ke ruang tersebut. Aku menghampirinya tanpa menyapanya. Aku duduk termenung di sampingnya, kenyataan tadi masih mengganggu pikiranku. Pantas saja akhir-akhir ini ibu sering sakit diare, demam, batuk, gatal-gatal hingga bandanya benar-benar kurus, ternyata ibu mengidap penyakit AIDS.
“Sekarang lo udah tahukan kalau nyokap lo sakit AIDS, sebenarnya itu alasannya kenapa nyokap lo jadi pelacur.” perkataan tante Sofie langsung membuyarkan lamunanku.
“Maksud tante?” pertanyaanku dengan penuh tanda tanya.
“Jadi gini, nyokap lo pernah cerita ke gue tentang hidupnya, tentang alasannya hingga dia jadi pelacur, dan cerita ini hanya dia ceritakan ke gue karena nyokap lo nganggap gue satu-satunya temen yang dapat dipercaya. Nyokap lo cerita kalau bokap lo ninggalin lo dan nyokap lo waktu lo kelas enam SD. Bokap lo itu suka main perempuan, jajan di luar, dan nyewa perek-perek sampai akhirnya bokap lo kena AIDS dan nularin penyakit itu ke nyokap lo. Nyokap lo tuh cinta baget sama bokap lo walau tahu bokap lo tukang selingkuh dan suka main perempuan karena bokap lo pergi bukan karena diusir, mungkin dia merasa bersalah udah nularin virus itu. Dan sampai sekarang enggak tahu keberadaan bokap lo gimana, apa dia masih hidup atau sudah mati. Setelah beberapa bulan kepergiaan bokap lo, akhirnya nyokap lo tahu kalau dia kena AIDS dan tahu kalau dia tertular karena bokap lo. Saat itu nyokap benar-benar merasa hancur. Rasa cinta yang begitu dalam ke bokap lo saat itu juga berubah jadi kebencian yang teramat benci. Bahkan dia sampai benci ke semua laki-laki, terutama laki-laki hidung belang kaya bokap lo. Rasa benci itu dia luapin dengan nularin virus HIV itu, ya dengan cara sebagai pelacur. Laki-laki yang make nyokap lo pasti akan kena AIDS. Jadi itu alasannya nyokap lo jadi seorang pelacur, dia ingin nularin virus HIV ke semua laki-laki hidung belang.”
Mendengar penjelasan tante Sofie, seakan ledakan kedua menyentak kuat, ledakan ini lebih kuat dari ledakan pertama. Ternyata penilaianku selama ini salah. Ibu menjadi PSK bukan karena tuntutan ekonomi, bukan karena malas bekerja, bukan karena kelainan seks, tetapi karena dendam rasa sakit hatinya. Walau jalan yang ditempuh ibu salah, aku tidak bisa membanyangkan betapa sakitnya ibu, betapa menderitanya ibu, betapa hancurnya ibu. Tak selayaknya aku membenci orang yang telah melahirkan aku. Seharusnya sebagai anak satu-satunya, aku mengobati rasa sakit hatinya, mengarahkannya ke jalan yang benar, membimbing dan membantunya untuk menghilangkan dendam tersebut, membuatnya tersenyum, membuatnya senang, tidak seperti selama ini yang membencinya dan membuatnya semakin menderita. Maafkan aku, Ibu! Maafkan kesalahku selama ini! Maafkan hatiku yang buta akan penderitaanmu! Maafkan!
Aku mencitaimu, Ibu. Aku menyayangimu. Sungguh, Aku menyayangimu!
Kuhampiri ruangan tempat ibu berbaring. Aku berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Kulihat ibu dari kaca kecil di pintu. Kulihat ia berbaring lemah dan masih tak sadarkan diri, nafasnya pun dibantu oleh tabung oksigen, dan banyak alat medis yang menempel ditubuhnya. Air mata yang mengembang di pelupuk mataku kini tak terbendung lagi dan mengalir ke pipiku.
Ibu! Betapa menderitanya dirimu. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk ibu. Semoga Tuhan mengampuni dosa kita! Semoga Tuhan mengampuni dosa ibu! Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar